Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Hanya Sebuah Nilai di Bayar Dengan Tubuh

Nilai di Tukar Tubuh

Agen Poker Online Terpercaya

Dengan langkah ragu-ragu aku mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada.“Winda…”, sebuah suara memanggil.“Hei Ratna!”.“Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?”, Ratna itu bertanya heran.“Tau nih, aku mau minta ujian susulan, sudah dua kali aku minta diundur terus, kenapa ya?”.“Idih jahat banget!”.

“Makanya, aku takut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk dulu!”.“He-eh deh, sampai nanti!” Ratna berlalu. Dengan memberanikan diri aku mengetuk pintu.“Masuk…!”, Sebuah suara yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.“Selamat siang pak!”.“Selamat siang, kamu siapa?”, tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.

“Saya Winda…!”.
“Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?”.
“Iya benar pak.”
“Saya tidak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kamu datang ke rumah saya, ini kartu nama saya”, Katanya acuh tak acuh sambil menyerahkan kartu namanya.“Ada lagi?” tanya dosen itu.
“Tidak pak, selamat siang!”
“Selamat siang!”.Dengan lemas aku beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah belajar sampai larut malam, sampai di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh!

Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Hari ini aku harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu.

Rumah Pak Hr terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yang sudah mulai tua tetapi tetap segar muncul.

“Ehh…! Winda, ayo masuk!”, sapa orang itu yang tak lain adalah pak Hr sendiri.
“Permisi pak! Ibu mana?”, tanyaku berbasa-basi.
“Ibu sedang pergi dengan anak-anak ke rumah neneknya!”, sahut pak Hr ramah.
“Sebentar ya…”, katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan.

Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer.

Rumah Pak Hr tertata rapi. Dinding ruang tamunya bercat putih. Di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. Di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu.

“Gimana sudah siap?”, tanya pak Hr mengejutkan aku dari lamunannya.
“Eh sudah pak!”
“Sebenarnya…, sebenarnya Winda tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau…, kalau…!”
“Kalau apa pak?”, aku bertanya tak mengerti. Belum habis bicaranya, Pak Hr sudah menuburuk tubuhku.
“Pak…, apa-apaan ini?”, tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.
“Jangan berpura-pura Winda sayang, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aku!”, sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.

Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli, jijik…, namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku. Harus kuakui memang, walaupun dia lebih pantas jadi bapakku, namun sebenarnya lelaki tua ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi aku tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr.

“Lepaskan…, Pak jangan hhmmpppff…!”, kata-kataku tidak terselesaikan karena terburu bibirku tersumbat mulut pak Hr.

Aku meronta dan berhasil melepaskan diri. Aku bangkit dan berlari menghindar. Namun entah mengapa aku justru berlari masuk ke sebuah kamar tidur. Kurapatkan tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang terengah-engah, entah mengapa birahiku sedemikian cepat naik. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.

Pak Hr seperti diberi kesempatan emas. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya. Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Tubuhku bergetar hebat manakala lelaki tua itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. Dengan sekali tarik aku jatuh ke pelukan Pak Hr, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki tua itu. Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin kuat hingga akhirnya akupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya. Terbayang olehku saat-saat aku dicumbui seperti itu oleh Aldy, entah sedang di mana dia sekarang. aku tidak menolak lagi. bahkan kini malah membalas dengan hangat.

Merasa mendapat angin kini tangan Pak Hr bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang aku pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang aku pakai.

Jantungku berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yang ada di dadaku dengan gemas. Terasa benar, telapak tangannya yang kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang nakal mepermainkan puting susuku. Gemas sekali nampaknya dia. Tangannya makin lama makin kasar bergerak di dadaku ke kanan dan ke kiri.

Setelah puas, dengan tidak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yang aku pakai satu demi satu hingga berceceran di lantai. Hingga akhirnya aku hanya memakai secarik G-string saja. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan sarungnya. Di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang telah menegang, sebesar lengan Bayi.

Tak terasa aku menjerit ngeri, aku belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Aku sedikit ngeri. Bisa jebol milikku dimasuki benda itu. Namun aku tak dapat menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu. Pak Hr berjalan mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai sampai ke punggung.

“Kau Cantik sekali Winda…”, gumam pak Hr mengagumi kecantikanku.

Aku hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar pujian itu.

Info : Jones

Dengan lembut Pak Hr mendorong tubuhku sampai terduduk di pinggir kasur. Lalu ia menarik G-string, kain terakhir yang menutupi tubuhku dan dibuangnya ke lantai. Kini kami berdua telah telanjang bulat. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu.

Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluanku yang tertutup rambut lebat itu. Aku memejamkan mata, oohh, indahnya, aku sungguh menikmatinya, sampai-sampai tubuhku dibuat menggelinjang-gelinjang kegelian.

“Pak…!”, rintihku memelas.
“Pak…, aku tak tahan lagi…!”, aku memelas sambil menggigit bibir. Sungguh aku tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Hr. Namun rupanya lelaki tua itu tidak peduli, bahkan senang melihat aku dalam keadaan demikian. Ini terlihat dari gerakan tangannya yang kini bahkan terjulur ke atas meremas-remas payudaraku, tetapi tidak menyudahi perbuatannya. Padahal aku sudah kewalahan dan telah sangat basah kuyup.

“Paakk…, aakkhh…!”, aku mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Hr melampiaskan derita birahiku, kujambak rambut Pak Hr keras-keras. Kini aku tak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. Sungguh lihai laki-laki ini membangkitkan gairahku. aku yakin dengan nafsunya yang sebesar itu dia tentu sangat berpengalaman dalam hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah digaulinya. Tapi apa peduliku?

Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang masih terduduk di tepi ranjang dengan bagian bawah perutnya persis berada di depan wajahku. aku sudah tahu apa yang dia mau, namun tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa mendekati kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu.

Tanpa melawan sama sekali aku membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak Hr ke dalam mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulutku. Itupun sudah terasa penuh. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Aku pun bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahku menyapu kepalanya.

Beberapa saat kemudian Pak Hr melepaskan diri, ia membaringkan aku di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika itu pula kepala penis Pak Hr yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.

Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.

Pak Hr cukup mengerti keadaan diriku, ketika dia selesai masuk seluruhnya dia memberi kesempatan padaku untuk menguasai diri beberapa saat. Sebelum kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.

Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Pak Hr menyetubuhi aku dengan cara itu. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas payudaraku. Aku dapat merasakan puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.

Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak dapat menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin membuat Pak Hr tergila-gila.

Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Pak Hr membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah payudara aku yang kini menggantung berat ke bawah. Sebagai seorang wanita aku memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini aku kewalahan menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia bertahan. Aku yang kini duduk mengangkangi tubuhnya hampir kehabisan nafas.

Kupacu terus goyangan pinggulku, karena aku merasa sebentar lagi aku akan memperolehnya. Terus…, terus…, aku tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu sampai, aku tak peduli lagi…, aku memekik keras sambil menjambak rambutnya. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhku mengejang. Sungguh hebat rasa yang kurasakan kali ini. Sungguh ironi memang, aku mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan orang yang aku sukai. Tapi masa bodohlah.

Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku. Pak Hr kemudian kembali mengambil inisiatif. kini gantian Pak Hr yang menindihi tubuhku. Ia memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh hebat laki-laki ini. Walaupun sudah berumur tapi masih bertahan segitu lama. Bahkan mengalahkan semua cowok-cowok yang pernah tidur denganku, walaupun mereka rata-rata sebaya denganku.

Namun beberapa saat kemudian, Pak Hr mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki tua itu bergetar hebat di atas tubuhku. Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya.

Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri. Kami terbaring kelelahan di atas kasur itu. Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat. Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami yang sudah tercerai berai.

Aku sendiri terpejam sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja aku alami di sekujur tubuhku ini. Terasa benar ada cairan kental yang hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginaku. Hangat dan sedikit gatal menggelitik.

Bagian bawah tubuhku itu terasa benar-benar banjir, basah kuyub. Aku menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana.

“Bukan main Winda, ternyata kau pun seperti kuda liar!” kata Pak Hr penuh kepuasan. Aku yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah. aku sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak beristirahat. Persetan dengan tubuhku yang masih telanjang bulat.

Pak Hr kemudian bangkit berdiri, ia menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki tua itu mulai mengenakan kembali pakaiannya. Aku pun dengan malas bangkit dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.

Sambil berpakaian ia bertanya, “Bagaimana dengan ujian saya pak?”.

“Minggu depan kamu dapat mengambil hasilnya”, sahut laki-laki itu pendek.
“Kenapa tidak besok pagi saja?”, protes aku tak puas.
“Aku masih ingin bertemu kamu, selama seminggu ini aku minta agar kau tidak tidur dengan lelaki lain kecuali aku!”, jawab Pak Hr.

Aku sedikit terkejut dengan jawabannya itu. Tapi akupun segera dapat menguasai keadaanku. Rupanya dia belum puas dengan pelayanan habis-habisanku barusan.

“Aku tidak bisa janji!”, sahutku seenaknya sambil bangkit berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar mandi. Pak Hr hanya mampu terbengong mendengar jawabanku yang seenaknya itu.

Aku sedang berjalan santai meninggalkan rumah pak Hr, ini pertemuanku yang ketiga dengan laki-laki itu demi menebus nilai ujianku yang selalu jeblok jika ujian dengan dia. Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar dia bisa main denganku. Dasar…, namun harus kuakui, dia laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa jika dibandingkan dengan usianya yang hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini dia masih sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu aku datang, dan dua kali di kamar tidur. Aku sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang. Berutung kali ini, aku bisa memaksanya menandatangani berkas ujian susulanku.

“Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan”, katanya sambil membubuhkan nilai A di berkas ujianku.
“Selama bapak masih bisa memberiku nilai A”, kataku pendek.
“Segeralah mendaftar, kuliah akan dimulai minggu depan!”.
“Terima kasih pak!” kataku sambil tak lupa memberikan senyum semanis mungkin.
“Winda!” teriakan seseorang mengejutkan lamunanku. Aku menoleh ke arah sumber suara tadi yang aku perkirakan berasal dari dalam mobil yang berjalan perlahan menghampiriku. Seseorang membuka pintu mobil itu, wajah yang sangat aku benci muncul dari balik pintu Mitsubishi Galant keluaran tahun terakhir itu.

“Masuklah Winda…”.
“Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan sendiri koq!”, Aku masih mencoba menolak dengan halus.
“Ayolah, masa kau tega menolak ajakanku, padahal dengan pak Hr saja kau mau!”.

Aku tertegun sesaat, Bagai disambar petir di siang bolong.

“Da…,Darimana kau tahu?”.
“Nah, jadi benar kan…, padahal aku tadi hanya menduga-duga!”

“Sialan!”, Aku mengumpat di dalam hati, harusnya tadi aku bersikap lebih tenang, aku memang selalu nervous kalau ketemu cowok satu ini, rasanya ingin buru-buru pergi dari hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang seram itu.

Seperti tipikal orang Indonesia bagian daerah paling timur, cowok ini hitam tinggi besar dengan postur sedikit gemuk, janggut dan cambang yang tidak pernah dirapikan dengan rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya memakai kemeja yang tidak pernah dikancingkan dengan benar sehingga memamerkan dadanya yang penuh bulu. Dengan asesoris kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian…, cukup menunjukkan bahwa dia ini orang yang memang punya duit. Namun, aku menjadi muak dengan penampilan seperti itu.

Info : iPhone

Dino memang salah satu jawara di kampus, anak buahnya banyak dan dengan kekuatan uang serta gaya jawara seperti itu membuat dia menjadi salah satu momok yang paling menakutkan di lingkungan kampus. Dia itu mahasiswa lama, dan mungkin bahkan tidak pernah lulus, namun tidak ada orang yang berani mengusik keberadaannya di kamus, bahkan dari kalangan akademik sekalipun.

“Gimana? Masih tidak mau masuk?”, tanya dia setengah mendesak.

Aku tertegun sesaat, belum mau masuk. Aku memang sangat tidak menyukai laki-laki ini, Tetapi kelihatannya aku tidak punya pilihan lain, bisa-bisa semua orang tahu apa yang kuperbuat dengan pak Hr, dan aku sungguh-sungguh ingin menjaga rahasia ini, terutama terhadap Erwin, tunanganku. Namun saat ini aku benar benar terdesak dan ingin segera membiarkan masalah ini berlalu dariku. Makanya tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja ajakannya.

Dino tertawa penuh kemenangan, ia lalu berbicara dengan orang yang berada di sebelahnya supaya berpindah ke jok belakang. Aku membanting pantatku ke kursi mobil depan, dan pemuda itu langsung menancap gas. Sambil nyengir kuda. Kesenangan.

“Ke mana kita?”, tanyaku hambar.
“Lho? Mestinya aku yang harus tanya, kau mau ke mana?”, tanya Dino pura-pura heran.
“Sudahlah Dino, tak usah berpura-pura lagi, kau mau apa?”, Suaraku sudah sedemikian pasrahnya. Aku sudah tidak mau berpikir panjang lagi untuk meminta dia menutup-nutupi perbuatanku. Orang yang duduk di belakangku tertawa.
“Rupanya dia cukup mengerti apa kemauanmu Dino!”, Dia berkomentar.
“Ah, diam kau Maki!” Rupanya orang itu namanya Maki, orang dengan penampilan hampir mirip dengan Dino kecuali rambutnya yang dipotong crew-cut.
“Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sangat merindukanmu Winda!”, pancing Dino.
“Sesukamulah…!”, Aku tahu benar memang itu yang diinginkannya.

Dino tertawa penuh kemenangan.

Ia melarikan mobilnya makin kencang ke arah sebuah kompleks perumahan. Lalu mobil yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar. Di pekarangan itu sudah ada 2 buah mobil lain, satu Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota Great Corolla namun keduanya kelihatan diparkir sekenanya tak beraturan.

Interior depan rumah itu sederhana saja. Cuma satu stel sofa, sebuah rak perabotan pecah belah. Tak lebih. Dindingnya polos. Demikian juga tempok ruang tengah. Terasa betapa luas dan kosongnya ruangan tengah itu, meski sebuah bar dengan rak minuman beraneka ragam terdapat di sudut ruangan, menghadap ke taman samping. Sebuah stereo set terpasang di ujung bar. Tampaknya baru saja dimatikan dengan tergesa-gesa. Pitanya sebagian tergantung keluar.

Dari pintu samping kemudian muncul empat orang pemuda dan seorang gadis, yang jelas-jelas masih menggunakan seragam SMU. Mereka semua mengeluarkan suara setengah berbisik. Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya sesuku dengan Dino atau sebangsanya, sedangkan yang satu lagi seperti bule dengan rambutnya yang gondrong. Sementara si gadis berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang hitam lurus dan panjang tergerai sampai ke pinggang, ia memakai bandana lebar di kepalanya dengan poni tebal menutupi dahinya. Wajahnya yang oval dan bermata sipit menandakan bahwa ia keturunan Cina atau sebangsanya. Harus kuakui dia memang cantik, seperti bintang film drama Mandarin. Berbeda dengan penampilan ketiga laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan mereka, dilihat dari tampangnya yang masih lugu. Ia masih mengenakan seragam sebuah sekolah Katolik yang langsung bisa aku kenali karena memang khas. Namun entah mengapa dia bisa bergaul dengan orang-orang ini.

Dino bertepuk tangan. Kemudian memperkenalkan diriku dengan mereka. Yos, dan Bram seperti tipikal orang sebangsa Dino, Tito berbadan tambun dan yang bule namanya Marchell, sementara gadis SMU itu bernama Shelly. Mereka semua yang laki-laki memandang diriku dengan mata “lapar” membuat aku tanpa sadar menyilangkan tangan di depan dadaku, seolah-olah mereka bisa melihat tubuhku di balik pakaian yang aku kenakan ini.

Tampak tak sabaran Dino menarik diriku ke loteng. Langsung menuju sebuah kamar yang ada di ujung. Kamar itu tidak berdaun pintu, sebenarnya lebih tepat disebut ruang penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di salah satu ujungnya merupakan pintu tembusan ke ruang lain.

Di sana ada sebuah kasur yang terhampar begitu saja di lantai kamar. Dengan sprei yang sudah acak-acakan. Di sudut terdapat dua buah kursi sofa besar dan sebuah meja kaca yang mungil. Di bawahnya berserakan majalah-majalah yang cover depannya saja bisa membuat orang merinding. Bergambar perempuan-perempuan telanjang.

Aku sadar bahkan sangat sadar, apa yang dimaui Dino di kamar ini. Aku beranjak ke jendela. Menutup gordynnya hingga ruangan itu kelihatan sedikit gelap. Namun tak lama, karena kemudian Dino menyalakan lampu. Aku berputar membelakangi Dino, dan mulai melucuti pakaian yang aku kenakan. Dari blouse, kemudian rok bawahanku kubiarkan meluncur bebas ke mata kakiku. Kemudian aku memutar balik badanku berbalik menghadap Dino.

Betapa terkejutnya aku ketika aku berbalik, ternyata di hadapanku kini tidak hanya ada Dino, namun Maki juga sedang berdiri di situ sambil cengengesan. Dengan gerakan reflek, aku menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Melihat keterkejutanku, kedua laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak.

“Ayolah Winda, Toh engkau juga sudah sering memperlihatkan tubuh telanjangmu kepada beberapa laki-laki lain?”.
“Kurang ajar kau Dino!” Aku mengumpat sekenanya.

Wajah laki-laki itu berubah seketika, dari tertawa terbahak-bahak menjadi serius, sangat serius. Dengan tatapan yang sangat tajam dia berujar, “Apakah engkau punya pilihan lain? Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan kejadian ini.”

Aku tertegun, melayani dua orang sekaligus belum pernah aku lakukan sebelumnya. Apalagi orang-orang yang bertampang seram seperti ini. Tapi seperti yang dia bilang, aku tak punya pilihan lain. Seribu satu pertimbangan berkecamuk di kepalaku hingga membuat aku pusing. Tubuhku tanpa sadar sampai gemetaran, terasa sekali lututku lemas sepertinya aku sudah kehabisan tenaga karena digilir mereka berdua, padahal mereka sama sekali belum memulainya.

Akhirnya, dengan sangat berat aku menggerakkan kedua tangan ke arah punggungku di mana aku bisa meraih kaitan BH yang aku pakai. Baju yang tadi aku pakai untuk menutupi bagian tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai. Dengan sekali sentakan halus BH-ku telah terlepas dan meluncur bebas dan sebelum terjatuh ke lantai kulemparkan benda itu ke arah Dino yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium bagian dalam mangkuk bra-ku dengan penuh perasaan.

“Harum!”, katanya.

Lalu ia seperti mencari-cari sesuatu dari benda itu, dan ketika ditemukannya ia berhenti.

“36B!”, katanya pendek.

Rupanya ia pingin tahu berapa ukuran dadaku ini.

“BH-nya saja sudah sedemikian harum, apalagi isinya!”, katanya seraya memberikan BH itu kepada Maki sehingga laki-laki itu juga ikut-ikutan menciumi benda itu. Namun demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku yang kini tidak tertutup apa-apa lagi.

Aku kini hanya berdiri menunggu, dan tanpa diminta Dino melangkah mendekatiku. Ia meraih kepalaku. Tangannya meraih kunciran rambut dan melepaskannya hingga rambutku kini tergerai bebas sampai ke punggung.

“Nah, dengan begini kau kelihatan lebih cantik!”

Ia terus berjalan memutari tubuhku dan memelukku dari belakang. Ia sibakkan rambutku dan memindahkannya ke depan lewat pundak sebelah kiriku, sehingga bagian punggung sampai ke tengkukku bebas tanpa penghalang. Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk belakangku. Lidahnya menjelajah di sekitar leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana. Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu yang tadi memeluk pinggangku kini mulai merayap naik dan mulai meremas-remas kedua belah payudaraku dengan gemas. Aku masih menanggapinya dengan dingin dengan tidak bereaksi sama sekali selain memejamkan mataku.

Dino rupanya tidak begitu suka aku bersikap pasif, dengan kasar ia menarik wajahku hingga bibirnya bisa melumat bibirku. Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta.

Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk menikmati perasaan itu dengan utuh. Tak ada gunanya aku menolak, hal itu akan membuatku lebih menderita lagi. Dengan kuluman lidah seperti itu, ditingkahi dengan remasan-remasan telapak tangannya di payudaraku sambil sekali-sekali ibu jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku, pertahananku akhirnya bobol juga. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Dino mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini aku mulai memberanikan menggerakkan tangan meremas kepala Dino yang berada di belakangku. Sementara dengan ekor mataku aku melihat Maki beranjak berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sambil pandangan matanya tidak pernah lepas dari kami berdua.

Mungkin karena merasa sudah menguasai diriku, ciuman Dino terus merambat turun ke leherku, menghisapnya hingga aku menggelinjang. Lalu merosot lagi menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan sampai akhirnya hinggap di salah satu pucuk bukit di dadaku, Dengan satu remasan yang gemas hingga membuat puting susuku melejit Dino untuk mengulumnya. Pertama lidahnya tepat menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh daerah puting susuku sebelum mulutnya mengenyot habis puting susuku itu. Ia menghisapnya dengan gemas sampai pipinya kempot.

Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan disengat listrik, terasa geli yang luar biasa bercampur sedikit nyeri di bagian itu. Aku menggelinjang, melenguh apalagi ketika puting susuku digigit-gigit perlahan oleh Dino. Buah anggur yang ranum itu dipermainkan pula dengan lidah Dino yang kasap. Dipilin-pilinnya kesana kemari. Dikecupinya, dan disedotnya kuat-kuat sampai putingnya menempel pada telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks meremas dan menarik kepalanya sehingga semakin membenam di kedua gunung kembarku yang putih dan padat. Aku sungguh tak tahu mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu. Mengapa aku justeru tenggelam dalam permaianan itu? Semula aku hanya merasa terpaksa demi menutupi rahasia atas perbuatanku. Tapi kemudian nyatanya, permainan yang Dino mainkan begitu dalam. Dan aneh sekali, Tanpa sadar aku mulai mengikuti permainan yang dipimpin dengan cemerlang oleh Dino.

“Winda…”, “Ya?”, “Kau suka aku perlakukan seperti ini?”. Aku hanya mengangguk. Dan memejamkan matanya. membiarkan payudaraku terus diremas-remas dan puting susunya dipilin perlahan. Aku menggeliat, merasakan nikmat yang luar biasa. Puting susu yang mungil itu hanya sebentar saja sudah berubah membengkak, keras dan mencuat semakin runcing.

Agen Domino Online Terpercaya

“Hsss…, ah!”, Aku mendesah saat merasakan jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana dalamku dan merayap mencari liang yang ada di selangkanganku. Dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika sudah terasa basah jarinya mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.

Dalam posisi masih berdiri berhadapan, sambil terus mencumbui payudaraku, Dino meneruskan aksinya di dalam liang gelap yang sudah basah itu. Makin lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginaku itu bergerak-gerak dengan liar. Bahkan kadang-kadang mencoba merenggangkan liang vaginaku hingga menganga. Dan yang membuat aku tambah gila, ia menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk ke dalam liang vaginaku seolah-olah sedang menyetubuhiku. Aku tak kuasa untuk menahan diri.

“Nggghh…!”, mulutku mulai meracau. Aku sungguh kewalahan dibuatnya hingga lututku terasa lemas hingga akhirnya akupun tak kuasa menahan tubuhku hingga merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah-engah. Aku sungguh tidak memperhatikan lagi yang kutahu kini tiba-tiba saja Dino telah berdiri telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan angkuhnya berdiri mengangkang persis di depanku sehingga wajahku persis menghadap ke bagian selangkangannya. Disitu, aku melihat batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang kehitaman dengan bulu hitam yang lebat di daerah pangkalnya.

Dengan sekali rengkuh, ia meraih kepalaku untuk ditarik mendekati daerah di bawah perutnya itu. Aku tahu apa yang dimauinya, bahkan sangat tahu ini adalah perbuatan yang sangat disukai para lelaki. Di mana ketika aku melakukan oral seks terhadap kelaminnya.

Maka, dengan kepalang basah, kulakukan apa yang harus kulakukan. Benda itu telah masuk ke dalam mulutku dan menjadi permainan lidahku yang berputar mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah topi baja itu. Lalu berhenti ketika menemukan lubang yang berada persis di ujungnya. Lalu dengan segala kemampuanku aku mulai mengelomoh batang itu sambil kadang-kadang menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya bergetar hebat menahan rasa yang tak tertahankan.

Pada saat itu aku sempat melirik ke arah sofa di mana Maki berada, dan ternyata laki-laki ini sudah mulai terbawa nafsu menyaksikan perbuatan kami berdua. Buktinya, ia telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya naik turun sambil berkali-kali menelan ludah. Konsentrasiku buyar ketika Dino menarik kepalaku hingga menjauh dari selangkangannya. Ia lalu menarik tubuhku hingga telentang di atas kasur yang terhampar di situ. Lalu dengan cepat ia melucuti celana dalamku dan dibuangnya jauh-jauh seakan-akan ia takut aku akan memakainya kembali.

Untuk beberapa detik mata Dino nanar memandang bagian bawah tubuhku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi. Si Makipun sampai berdiri mendekat ke arah kami berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan.

Namun beberapa detik kemudian, Dino mulai merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Paha kiriku diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang sudah sangat basah. Ada rasa geli menyerang di situ hingga aku menggelinjang dan memejamkan mata.

Sedetik kemudian, aku merasakan ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku menahan nafas ketika terasa ada benda asing mulai menyeruak di situ. Seperti biasanya, aku tak kuasa untuk menahan jeritanku pada saat pertama kali ada kejantanan laki-laki menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.

Dengan perlahan namun pasti, kejantanan Dino meluncur masuk semakin dalam. Dan ketika sudah masuk setengahnya ia bahkan memasukkan sisanya dengan satu sentakan kasar hingga aku benar-benar berteriak karena terasa nyeri. Dan setelah itu, tanpa memberiku kesempatan untuk membiasakan diri dulu, Dino sudah bergoyang mencari kepuasannya sendiri.

Dino menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan kasar menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga aku memekik keras setiap kali kejantanan Dino menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur nikmat yang tak terkira. Ada sensasi aneh yang baru pertama kali kurasakan di mana di sela-sela rasa ngilu itu aku juga merasakan rasa nikmat yang tak terkira. Namun aku juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga aku sampai menangis menggebu-gebu, sakit keluhku setiap kali Dino menghunjam, tapi aku semakin mempererat pelukanku, Pedih, tapi aku juga tak bersedia Dino menyudahi perlakuannya terhadap diriku.

Aku semakin merintih. Air mataku meleleh keluar. kami terus bergulat dalam posisi demikian. Sampai tiba-tiba ada rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku telah orgasme. Ya, orgasme bersama dengan orang yang aku benci. Tubuhku mengejang selama beberapa puluh detik. Sebelum melemas. Namun Dino rupanya belum selesai. Ia kini membalikkan tubuhku hingga kini aku bertumpu pada kedua telapak tangan dan kedua lututku. Ia ingin meneruskannya dengan doggy style. Aku hanya pasrah saja.

Kini ia menyetubuhiku dari belakang. Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah. Kini Dino bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan semakin kasar.

Pada saat itu tanpa terasa, Maki telah duduk mengangkang di depanku. Laki-laki ini juga telah telanjang bulat. Ia menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku.

Kini aku melayani dua orang sekaligus. Dino yang sedang menyetubuhiku dari belakang. Dan Maki yang sedang memaksaku melakukan oral seks terhadap dirinya. Dino kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati payudaraku. Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku. Dengan dua orang yang mengeroyokku aku sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku merasa sangat terangsang dengan posisi seperti ini.

Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di arah lainnya semakin menghunjam. Kadang-kadang aku hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesulitanku mengalah dan hanya diam saja. Dino yang mengatur segala gerakan.

Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar di sekujur tubuhku. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan diriku melambung di luar batas yang pernah kuperkirakan sebelumnya. Dan kembali tubuhku mengejang, deras dan tanpa henti. Aku mengalami orgasme yang datang dengan beruntun seperti tak berkesudahan.

Tidak lama kemudian Dino mengalami orgasme. Batang penisnya menyemprotkan air mani dengan deras ke dalam liang vaginaku. Benda itu menyentak-nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku. Aku bisa merasakan air mani yang disemprotkannya banyak sekali, hingga sebagian meluap keluar meleleh di salah satu pahaku. Sesudah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan Dino. Masih dalam posisi doggy style. Batang kejantanannya dengan mulus meluncur masuk dalam sekali sampai menyentuh bibir rahimku. Ia bisa mudah melakukannya karena memang liang vaginaku sudah sangat licin dilumasi cairan yang keluar dari dalamnya dan sudah bercampur dengan air mani Dino yang sangat banyak. Permainan dilanjutkan. Aku kini tinggal melayani Maki seorang, karena Dino dengan nafas yang tersengal-sengal telah duduk telentang di atas sofa yang tadi diduduki Maki untuk mengumpulkan tenaga. Aku mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki terus memacu gerakkannya. Semakin lama semakin keras dan kasar hingga membuat aku merintih dan mengaduh tak berkesudahan.

Pada saat itu masuk Bram dan Tito bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa basa-basi, mereka pun langsung melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. Lalu mereka duduk di lantai dan menonton adegan mesum yang sedang terjadi antara aku dan Maki. Bram nampak kelihatan tidak sabaran Tetapi aku sudah tidak peduli lagi. Maki terus memacu menggebu-gebu. Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.

Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan kembali telentang di atas kasur dan pada saat itu Bram dengan tangkas menyodorkan batang kejantanannya ke dalam mulutku. Aku sudah setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti tubuhku. Keadaanku sudah sedemikian acak-acakan. Rambut yang kusut masai. Tubuhku sudah bersimpah peluh. Tidak hanya keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat dari para laki-laki yang bergantian menggauliku. Aku kini hanya telentang pasrah ditindihi tubuh gemuk Tito yang bergoyang-goyang di atasnya.

Laki-laki gemuk itu mengangkangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sambil terus menghunjam-hunjamkan miliknya ke dalam milikku. Sementara Bram tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas. Ia terus saja menjejal-jejalkan miliknya ke dalam mulutku. Aku sendiri sudah tidak bisa mengotrol diriku lagi. Guncangan demi guncangan yang diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin terangsang. Bukan lagi kuluman dan jilatan yang harusnya aku lakukan dengan lidah dan mulutku.

Dan ketika Tito melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-kuat hingga aku berteriak mengaduh kesakitan. Lalu beberapa saat kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku. Dan pada saat hampir bersamaan Bram juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang masih berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat. Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, namun tangan Bram yang kokoh tetap menahan kepalaku dan aku tak kuasa meronta lagi karena memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan kental yang hangat itu akhirnya tertelan olehku. Banyak sekali. Bahkan sampai meluap keluar membasahi daerah sekitar bibirku sampai meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu terasa di dalam mulutku. Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi aneh yang luar biasa juga di dalam diriku. Sungguh sangat erotis merasakan siksa birahi semacam ini hingga akupun akhirnya orgasme panjang untuk ke sekian kalinya.

Dengan ekor mataku aku kembali melihat seseorang masuk ke ruangan yang ternyata si bule dan orang itu juga mulai membuka celananya. Aku menggigit bibir, dan mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika Marchell mulai menindihi tubuhku. Pasrah.

Tidak lama kemudian setelah orang terakhir melaksanakan hasratnya pada diriku mereka keluar. aku merasa seluruh tubuhku luluh lantak. Setelah berhasil mengumpulkan cukup tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, aku bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaianku seadanya dan pergi mencari kamar mandi.

Aku berpapasan dengan Dino yang muncul dari dalam sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Lelaki itu sedang sibuk mengancingkan retsluiting celananya. Masih sempat terlihat dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang telanjang sedang ditindihi oleh tubuh Maki yang bergerak-gerak cepat. Memacu naik turun. Gadis itu menggelinjang-gelinjang setiap kali Maki bergerak naik turun. Rupanya anak itu bernasib sama seperti diriku.

“Di mana aku bisa menemukan kamar mandi?” tanyaku pada Dino.

Tanpa menjawab, ia hanya menunjukkan tangannya ke sebuah pintu. Tanpa basa-basi lagi aku segera beranjak menuju pintu itu.

Di sana aku mandi berendam air panas sambil mengangis. Aku tidak tahu saya sudah terjerumus ke dalam apa kini. Yang membuat aku benci kepada diriku sendiri, walaupun aku merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun demikian setiap kali teringat kejadian barusan, langsung saja selangkanganku basah lagi.

Aku berendam di sana sangat lama, mungkin lebih dari satu jam lamanya. Setelah terasa kepenatan tubuhku agak berkurang aku menyudahi mandiku. Dengan berjalan tertatih-tatih aku melangkah keluar kamar mandi dan berjalan mencari pintu keluar. Sudah hampir jam sebelas malam ketika aku keluar dari rumah itu.

Sampai di dalam rumah, Aku langsung ngeloyor masuk ke kamar. Aku tak peduli dengan kakakku yang terheran-heran melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, aku tak menyapanya karena memang sudah tidak ada keinginan untuk berbicara lagi malam ini. Aku tumpahkan segala perasaan campur aduk itu, kekesalan, dan sakit hati dengan menangis.

Monopoli Sexopoly

Aku Terbuai Oleh Permainan Monopoli

Agen Poker Online Terpercaya

Cuaca Jakarta sedang lucu-lucunya. Pagi cerah dan panasnya sudah kaya siang bolong, eh tiba-tiba jam 1 siang hujan deras kaya langit bocor. Jadwal hujan yang ga bisa ditebak gini yang bikin banyak warga Jakarta yang salah jadwal dan persiapan ngadepinnya.

Nasib yang sama menimpa Vani, jagoan indehoi kita yang sexy dan mesum habis ini. Suatu pagi di bulan Januari, setelah 2 minggu UAS yang menegangkan dan melelahkan semua sel otot dan otak para mahasiswa kampus S, Vani teringat dia masih menyimpan beberapa novel yang dipinjamnya dari Sasha. Ga ada kuliah dan ga ada paper yang perlu disubmit lagi, ni cewek mikir ga ada salahnya nyambangin Sasha di kosnya yang berjarak cuma sekali ngangkot dan ngojek jarak menengah.

Dengan pakaian casual, t-shirt putih semi body fit, celana pendek jeans selutut yang agak belel dan sneakers converse, berangkatlah Vani di pagi yang cerah itu ke kos Sasha sambil menenteng tas plastik berisi 3 novel pinjemannya. Cuaca bersahabat, bikin mood Vani juga cerah. Bahkan kelakuan iseng kondektur metromini yang belagak bantu naek si sexy ke bis dengan mendorong pantatnya, tapi sebenarnya cari kesempatan grepe-grepe, tidak merusak mood Vani.

Tapi 45 menit kemudian (ngetem metromininya 15 menit sendiri), ketika Vani hampir sampai di depan jalan utama kos Sasha, cuaca Jakarta tiba-tiba galau. Mendadak gelap, awan mendung sudah berarak dengan semaraknya di langit Jakarta. Benar saja, 100 meter sebelum turun hujan turun dengan derasnya. “Aseemmm… Kok mendadak ujan sih? Mana gue ga bawa payung” runtuk Vani dalam hati. Vani lebih kesel lagi ketika turun ga ada satupun ojek motor ataupun ojek payung yang mangkal di ujung jalan itu. Pada kabur kali para ojek motornya karena hujan.

Berlari-lari kecil menembus hujan, Vani masuk ke jalan Jambu Air (nama jalan disamarkan demi privacy si tukang ojek). Sekitar 50 meteran dari jalan raya baru deh ketemu sama 2 tukang ojek yang neduh di pos satpam. Sambil tetap menggunakan novel Sasha yang dalam kantong plastik sebagai pelindung kepala, Vani nyamperin pos satpam itu dan memanggil si tukang ojek “Bang, anterin ke dua belas dong” pinta Vani. Tapi, Vani heran, karena kedua tukang ojek itu ga langsung bereaksi atau sekadar menjawab. Malah agak melongo memandangi Vani.

Tiba-tiba Vani seperti tersadar. Karena kehujanan, t-shirt Vani menjeplak lengket dengan tubuhnya. Terutama di bagian dada yang memang dasarnya membusung mancung. Siluet bundar payudara dan bra yang melingkupinya tampak jelas akibat t-shirt-nya basah kuyup. Reflek Vani langsung menutupi dadanya dengan kantong plastik novelnya. “Eh Bang, mau ngojek ato bengong ajaaa?!” tanya Vani agak menjerit. “Eh..oh.. eh iya neng. Mau dianter kemana?” gelagepan si abang ojek yang giginya tonggos menjawab sambil menghampiri dan mulai menstarter motor bebeknya. Sedang abang yang setengah botak pura-pura ngelapin helm, nutupin malu ke-gap ngliatin dada si Vani.

Dengan terrpaksa memake helm bau keringat punya si tukang ojek agar kepada tidak lebih basah lagi, mahkluk sexy ini menghenyakkan pantat sekalnya di jok motor abang ojek, dan merekapun meluncur membelah hujan menuju jl. Jambu Air XII. Tukang ojek sudah setengah berharap orang yang dicari penumpangnya tidak ada di kos-nya, agar dia punya kesempatan ngantar balik si cewek ini. Tapi memang nasib tidak berpihak kepada si tukang ojek karena Sasha sudah nungguin Vani di pintu gedung kos-kosan tersebut. Belum lagi si Vani cuma bayar 2000. “Lho biasanya goceng neng” melas tukang ojek. “Eh, 3rebunya biaya lo melototin toked gw dan ngerem-ngerem melulu pas di jalan” saut Vani judes, ditingkahi cekikikan Sasha. Abang tukang ojek hampir tidak tahan untuk tanya “Kalo ngeliatin 3rebu, megang-megang berapa Neng”. Tapi ditahannya karena agak jiper sama kejudesan Vani. Dia cuma bilang “Kalo butuh jemputan, SMS aja abang ya neng. Neng Sasha tau kok nomor HP abang” sambil tersenyum semanis mungkin. “Iyee bang” sahut Vani dan Sasha serempak sambil menutup pintu.

“Genit amat tu tukang ojek” gerutu Vani sambil mendekap tubuhnya, menggigil kedinginan mengiringi langkah Sasha menuju kamarnya di lantai 3. “Udeh, ga usah bawel dah lo. Ayo cepet ke kamar gue, biar bisa ganti baju lo” sahut Sasha sabar sambil menarik tangan Vani agar bergerak lebih cepat. Kos Sasha adalah gedung persegi empat berwarna beige dengan aksen terakota di jendela-jendela yang menghadap keluar, memanjang kebelakang setinggi 4 tingkat yang khusus dibangun untuk jadi kos-kosan 3 tahun yang lalu. Terdapat hampir 80 kamar dan lebih dari 90% selalu terisi, karena memang lokasinya dekat dengan beberapa kampus dan komplek perkantoran. Layout dalamnya khas kos-kosan: dua deret kamar yang berhadapan, dibelah oleh taman selebar 1 meter yang memanjang di lantai dasar dan void sampai kelangit-langit gedung. Tapi void-nya tidak begitu lebar, karena pemilik gedung lebih memilih untuk membuat jalan di depan kamar cukup lega. Satu hal yang dirutuki Vani dan Sasha dari kos ini adalah tidak adanya lift. Cukup gempor juga naik ke lantai tiga. Maka itu, makin ke atas tarif bulanannya makin murah.

Sesampainya di kamar Sasha, Vani buru-buru masuk ke kamar mandinya karena sudah kebelet pipis. Kamar Sasha berukuran 4x5 meter. Kamar mandi dipojok kanan, berisi shower dan toilet duduk. Tempat tidur springbed ukuran 120cm x 200 cm mepet ke dinding kanan. Isi kamarnya standar anak koslah: lemari pakaian 2 pintu, TV, rak buku dan peralatan makan dan satu meja kecil. Sasha mengetok kamar mandi untuk mengasikan 2 potong t-shirt, celana pendek dan bra ke Vani. “Pilih aja mana yang lo suka hottie” kata Sasha kepada Vani yang melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. “Gw minta shampo ama sabun lo ya Sha” kata Vani sambil menerima pakaian tersebut. “Pake aja. Tapi jangan abisin” sahut Sasha. “Gue minum kale shampo lu” balas Vani sambil menutup pintu.

Rasa sebel Vani karena kehujanan barusan sudah hampir luruh semuanya diguyur air dari shower. Rasanya nyaman sekali ketika mengeringkan tubuh dengan handuk kering yang tebal milih Sasha. Karena celana dalamnya tidak basah, Vani memutuskan memakainya kembali. Tapi dia agak kebingungan ketika memilih bra punya Sasha. Bukan karena modelnya yang kinky atau warnanya ga cocok. Sasha lupa kalo toked Vani satu cup lebih besar dari miliknya. Jelas saja susu Vani ter”penyet” ketika memaksa memakai bra Sasha yang ber-cup B. Merasa sesak nafas, Vani memutuskan tidak memakai bra saja, dan langsung memakai t-shirt gombrang berwarna maroon dengan tulisan “Talk Nerdy to Me”. Selesai memakai celana pendek berbahan kaos milik Sasha, Vani mematut sebentar di cermin. T-shirt gombrangnya hampir menutupi celana pendek yang memang… pendek, menunjukkan sebagian besar paha putih Vani. 

Ketika akan membuka pintu kamar mandi, Vani baru sadar bahwa di luar Sasha sedang mengobrol dengan orang lain karena sedari tadi suara-suara di luar tidak terdengar, tertutup suara hujan yang menggemuruh. Vani sempat berpikir untuk tidak keluar dulu sampai tamu2 Sasha itu pergi karena tau kan.. dia ga pake bra. Rasanya gimana gitu. Tapi, akhirnya “Sebodo ah.. ga kliatan ini” pikir Vani sambil membuka pintu kamar mandi. Obrolan Sasha dan tamunya kontan terhenti ketika sesosok cewek berambut bob berwarna brunette muncul dari balik pintu kamar mandi. “Eh, lo ada tamu Sha?” tanya cowok berambut jabrik sambil tersenyum lebar melihat ada mahkluk bening lagi di kamar tersebut. “Eh, kenalin ni temen satu kampus gue, Vani” ujar Sasha sambil menarik Vani untuk mendekat. Si rambut jabrik bertubuh tinggi langsing dengan wajah agak tirus ternyata bernama Randy, dan temannya satu lagi yang berambut cepak dan berbadan agak gempal (ga gemuk ya, gempal) minta dipanggil Momo. “Weh pas banget nih sekarang kita berempat. Sudah bisa langsung dimulai” kata si Randy agak keliwat ceria. “Eh, maen apaan nih?” tanya Vani pengen tau. “Hihihihi.. lucu deh Van game-nya. Gue baru diceritain dikit barusan ama Randy. Tapi kliatannya seru banget. Lo pasti demen deh” sahut Sasha sambil cekikikan mencurigakan. Vani jadi penasaran.

“Eh bentar. Masih kurang satu orangnya. Butuh bankir-nya neh kita” kata Randy tiba-tiba sambil beranjak keluar kamar. Ga sampe semenit Randy sudah balik sambil menarik masuk cowok imut berkaca mata. “Elu yang jadi bankir-nya Dan?” tanya Sasha begitu melihat anak cowok yang baru masuk. “Wah, bankir apaa nih mbak? Saya juga ga ngerti. Tiba-tiba ditarik mas Randy” jawab polos anak cowok yang dipanggil Dan itu sambil melirik-lirik ke arah Vani dengan pandangan ingin tau. “Udah, lo dengerin dulu aja. Pasti lo demen nantinya” tukas Randy penuh misteri. Vani semakin penasaran dengan game ini.

Setelah mereka duduk melingkar berempat, dan cowok imut berkacamata yang ternyata bernama Danan duduk di luar lingkaran, Randy pun mulai menjelaskan apa sebenarnya game yang hendak mereka mainkan. Tapi pertama-tama, Randy membuka sebuah kotak karton persegi panjang berukuran sekitar 50x25cm dan mengeluarkan karton tebal terlipat 2 yang seperti papan. “Alaa.. ternyata cuma mo maen monopoli” sahut Vani agak sebel. “Eitt… tunggu dulu Van. Ini bukan sekedar monopoli. Ini monopoli khusus dewasa. Namanya sexopoly” jawab Randy tangkas sambil tetap menyengir mencurigakan. “Hah? Sexopoly?” Vani membeo. “Yoiii.. sexopoly. Sex Monopoly” cengiran Randy semakin lebar, dibarengi oleh cengiran mesum Momo dan Sasha. Duduk Danan jadi agak gelisah begitu mendengar kata “sex”. Vani langsung merasakan firasat buruk.

Info : Tekanan Udara

“Jadi pada dasarnya aturan maennya hampir sama sama monopoli biasa. Kita giliran jalan pake dadu 2 biji. Kalo udah sekali muter, mulai boleh beli properti. Dapet modalnya seorang ceban yak” jelas Randy panjang lebar. “Lah, apa bedanya sama monopoli biasa” bawel Vani. “Sabar napa Van. Biarin si Randy slese jelasin” tukas Sasha ga sabar. Vani langsung cemberut sambil agak memonyongkan bibirnya. Bikin Momo jadi gemes dan pengen ngelumat tu bibir yang penuh dan sensual itu. “Ok, bedanya disini nih. Pertama, setiap sekali muter, ga dapat uang dari bankir” Danan agak mengernyit mendengan “jabatannya” disebut. “Lalu, kalo lo masuk kotak Chance dan Community (kalo di versi indo “Kesempatan” dan “Dana Umum”), lo juga sama ngambil satu kartu Chance ato Community. Nah, bedanya tu diisi kartu-kartu ini” pungkas Randy puas. “Isi kartunya tuh perintah-perintah yang kudu dilakuin si pengambil kartu. Kalo isinya lo disuruh joget 5 menit, ya lo wajib joget 5 menit. Kalo isinya lo disuruh french kiss, ya lo wajib juga french kiss hehe” tambah Randy, diiringi cekikikan Sasha dan Momo.

“Aahhh… kaco neh maenan lo pada” rajuk Vani agak panik. “Tenang Van, perintah-perintahnya cocok kok buat kita-kita yang udah “de.wa.sa” kata Momo sambil menekankan pada kata “dewasa”. “Lo-lo pasti demen” kata Randy sambil mengedipkan mata. “Iihhh… jangan samain gue sama lo-lo pada ya” balas Vani agak sebel sekaligus tersipu, sambil berusaha mencubit paha Randy yang duduk di sebelahnya. Randy tidak berusaha menghindar cubitan main-main Vani, malah langsung menambahkan “Kalo jadi maen, lo semua wajib nyetorin HP ama dompet lo pada ke bankir. Kalo ada yang coba-coba melanggar alias tidak mematuhi perintah di game, bankir berhak menyita permanen harta benda lo itu” tambah Randy. Danan langsung jumawa begitu mendengar aturan tersebut sambil tangannya disorongkan ke Sasha dan Vani menagih HP dan dompet mereka.

“Eh, entar dulu. Gue mo liat isi kartunya” kata Vani sambil nyingkirin tangan Danan dari hadapannya. Sambil mengambil 3 kartu dari tumpukan Chance dan Community Vani menambahkan “Jangan-jangan ada kartu buatan lo yang isinya “Berhak dan bebas melakukan apapun juga kepada peserta lain”. Gawat dong. Enak di elu, ga enak di gue” tambah Vani galak sambil mulai membaca ketiga kartu tersebut. Ketiga peserta lainnya hanya cengar-cengir mendengar keberatan Vani. “Sumpah Van, ga ada kartu isinya kaya gitu” jawab Momo. “Kalo bener ada, ga berlaku deh” tambah Randy berusaha meyakinkan Vani. Tapi Vani tetap membaca kartu pertama. Kartu pertama isinya “Nuzzle and kiss your partner neck. Nibble his/her ear lobes and whisper "Let’s fuck". Gue artiin ya “Ciumin leher partnermu. Lalu gigit-gigit kecil kupingnya dan bisikkan “Ngentot yuk”. (Okay terjemahan gue memang agak vulgar. Tapi buat kebahagiaan kita bersama, mulai sekarang semua kartu yang aslinya bahasa inggris itu, gue langsung terjemahin ke dalam bahasa mesum Ethan. Gue harap semua semproters setuju .). Pipi Vani agak bersemu merah, malu-malu birahi, tapi tetap melanjutkan membaca kartu yang kedua. Isinya “Ajak partner lo untuk ngentot dengan kata-kata paling mesum yang lo punya. Minimal 2 kalimat”. Kartu yang ketiga berbunyi “Tatap mata partner lo penuh perasaan, sambil lo membelai-belai dan meremas-remas tubuhmu dan mendesah-desah selama 2 menit”. Vani tidak sadar menahan senyum sambil menggigit bibir bawahnya dan meletakkan ketiga kartu di tumpukannya kembali.

“Terus, gimana caranya nentuin sapa partnernya? Kan kita berempat” Vani mengemukakan persetujuannya untuk join game Sexopoly dengan pertanyaan tersebut. “Gampang dong, partner lo ya yang duduk pas disebelah lo. Gantian sama sisi satunya setiap kali ngambil kartu lagi” jelas Randy puas karena cewek bahenol ini akhirnya setuju ikut maen. “Pantes aja tadi ngatur duduknya selang-seling cowo cewe” batin Vani agak sebel begitu sadar mereka sudah bersiap-siap untuk hal tersebut. “Kalo lo setuju, serahin HP dan dompet lo ke Danan” tambah Randy. “Untung aja yang diambil pas yang aman2 kartunya” kata Randy & Momo dalam hati lega. “Ya udah, gue ikutan. Kasian Sasha sendirian” balas Vani masih pura-pura jual mahal sambil nyerahin BB dan dompetnya ke Danan. 

“Tugas gue cuma nyimpenin HP dan dompet doang nih” tanya Danan sambil memasukkan keempat HP dan dompet para peserta ke kantong plastik. “Ga lah. Lo juga yang bantu mastiin kalo ada peserta yang ga bersedia ngelakuin tugasnya” jawab Randy. “Plus, lo yang nentuin bayaran kalo ada yang masuk properti orang laen” tambah Momo. “Ambil kartunya sesuai warna areanya ya. Kalo area properti biru, ya lo ambil dari yang kartu biru” lanjut Momo. Danan manggut-manggut sambil membuka-buka beberapa kartu yang terdiri atas 4 kelompok warna tersebut. Biru, Kuning, Hijau dan Merah. “Eh, bayarannya bukannya pake duit monopoli-nya” tanya Sasha. “Ga lah. Kan di sexopoly lo ga dapat uang dari bank setiap kali muter” jelas Randy. “Uang cuma buat beli property” kata Randy lagi. “Lah terus kaya apaan bayarannya” selidik Vani mulai was was lagi. “Amanlah. Hampir selevel sama kartu chance dan community” jawab Randy berusaha menenangkan. Tapi, demi melihat wajah Danan yang bersemu merah ketika membaca beberapa kartu “RENT”, Vani dan Sasha tidak begitu yakin. Namun, mau bagaimana lagi. HP dan dompet mereka sudah ditangan Danan. Momo menutup penjelasan “rule of the game” dengan mengatakan “Tapi kalo gue masuk ke properti Randy ato Vani masuk ke properti Sasha, tidak perlu bayar sewa”. Sasha dan Vani baru saja hendak mengungkapkan pertanyaan dan keberatan, tapi buru-buru Momo mengangkat tangannya sambil berkata “Lo bedua bakal ngerti juga nantinya”. Dan begitulah, mereka menerima begitu saja peraturan yang agak GeJe tersebut.

“Permainan dimulaiiii” kata sang bankir sambil melempar kedua dadu ke papan sexopoly. “Gue duluaann” jerit Sasha cepat merebut dadu dan melemparkannya lagi ke tengah papan. “4 – 1, 5 langkah. Tu, wa, ga, pat, ma.. Hore, gue beli PLN-nya” kata Sasha girang. “Woe.. enak aja lo. Muter sekali baru boleh beli abis itu” tukas Vani sewot. “He-he.. sorry. Terlalu semangat” jawab Sasha tersipu-sipu. Searah jarum jam, setelah Sasha adalah giliran Randy. Diikuti oleh Vani, dan kemudian tentu saja Momo. Kelihatan banget kalo kedua cowok tersebut berusaha bisa masuk kotak Chance atau Community. Tapi ternyata Sasha yang malah pertama kali berkesempatan mengambil kartu Community. Deg-degan Sasha mengambil kartu pertamanya. Begitu membacanya, rona wajah Sasha yang putih agak merona. “Uhh.. bingung nih caranya” rajuk Sasha sambil meminta bantuan Vani. “Apaan sih yang lo dapat” tanya Vani penasaran. “Oooo… lo dapat yang rayuan mesum ini hihihi” kata Vani ketika membaca kartu Sasha. Itu kartu yang Vani buka di awal permainan yang isinya “Ajak partner lo untuk ngentot dengan kata-kata paling mesum yang lo punya. Minimal 2 kalimat”. “Ayo Sha.. lo rayu si Randy hahaha” timpal Momo penuh semangat. “Bilang apaan dong” Sasha malah tambah panik. “Udahh.. pake aja kata-kata lo pas horny ngajak si Revo ML” tambah Vani lagi sambil nyengir puas. “Aaaa.. Vaniii.. Lo jangan ikut-ikutan gangguin dong” rajuk Sasha manja, yang bikin Randy makin tambah gelisah bahagia. “Ok..ok.. diem dulu lo semua” kata Sasha akhirnya sambil mengangkat kedua tangannya, mencegah olok-olok Vani dan Momo semakin brutal. “Gue mulai ya” lanjut Sasha. “Rand..” kata Sasha. “Eh.. liatin Randy-nya dong. Masa ngajak ML nunduk gitu” sepet Vani cepat. “Iya. Iya.. Bawel amat sih” jawab Sasha sambil memonyongkan bibirnya. Serempak tawa keempat orang lainnya terdengar. Setelah mereka tenang, Sasha baru mau melakukan “tugas”nya itu.

“Rand..” kata Sasha lirih sambil menatap Randy sendu. Ruangan kamar Sasha langsung hening. Momo, Randy dan Danan tegang mengantisipasi kata-kata yang akan keluar dari bibir Sasha. “Udah seminggu gue ga disentuh cowo. Gue ga tahan lagi. Fuck me please..” desah Sasha. Selama sepersekian detik Randy terpana menatap nanar cewe cantik yang menatapnya dengan pandangan mengundang. Sampe-sampe Randy terpaksa menelan ludahnya. “Wakakakakakak…” tawa Sasha tiba-tiba meledak. “Denger gitu doang udah mupeng lo yaa…” goda Sasha nakal. Vani juga terkikik-kikik melihat Randy yang agak salah tingkah karena sempat kebawa omongan Sasha. “Agh.. Nggak kok, gue nggak kepengaruh sama omongan Sasha” Randy masih berusaha ngeles walo tidak meyakinkan. “Udah ah, giliran gue sekarang” kata Randy cepat-cepat sambil ngelempar dadu ke papan permainan agar anak-anak berenti cekikikan dan menggodanya. Permainan pun berlanjut.

Vani dan Sasha tidak begitu perhatian bahwa Randy dan Momo mati-matian berusaha membeli semua blok properti di area merah, alias area yang terletak di jalur terakhir sebelum masuk kotak start lagi. Padahal area merah adalah area dengan harga paling mahal. Kedua cewek ini malah sudah mulai beli-beli properti di kotak-kotak awal setelah putaran pertama (area biru) karena harganya paling murah (maklum cewe. Ga bisa liat barang murah atau diskonan).

“Yak bayarr..” teriak Vani happy, ketika langkah terakhir bidak Momo jatuh di properti Vani di area biru. “Ayo bankir, tarik kartunya” perinta Sasha yang juga ikutan semangat. Agak gugup si bankir Danan mengambil tumpukan kartu “RENT” warna biru dan mengambil kartu dari posisi paling atas. “Puji dan rayulah pemilik properti segombal mungkin dengan minimal 10 kalimat” Danan membaca tulisan yang tertera di kartu tersebut. “Yahh… gitu doang?” kata Vani. Momo hanya cengar-cengir saja. Rayuan Momo bahkan tidak layak untuk ditulis disini karena parah banget jayusnya. Giliran berikutnya adalah Sasha yang dengan semangat melempar dadu. 9 langkah. Dan dengan sukses Sasha mendarat di kotak Chance. Agak deg-degan Sasha menarik satu kartu dari tumpukan kartu chance dan mulai membacanya.

“Ahhh… kok gue sih yang kena” rengek Sasha sambil melempar kartu tersebut ke tengah-tengah papan game. Dengan cepat Momo memungut dan membacanya. “Frech kiss yang hot dengan partnermu selama 30 detik” baca Momo keras-keras. Cengiran lebar menghiasi wajahnya. Tiba-tiba Danan yang biasanya ga banyak omong berkata dengan agak bergetar “Kalo bankir menganggap kurang hot, hukuman wajib diulang”. “Ahh.. lo kok mihak Momo, Dan” runtuk Sasha sambil mendelik ke Danan. Danan langsung bersembunyi di punggung Vani sambil berkata gugup “Em.. emang gitu aturannya mbak”. Momo yang sudah tidak sabar langsung menarik tangan Sasha mendekatinya “Ayo buruan Sha. Harus komit lo” kata Momo penuh aura mesum. “Iya.. iya.. ga usah narek-narek napa” Sasha belagak galak. “Eh, hands off!” teriak Danan tiba-tiba sambil memunculkan kepalanya dari balik punggung Vani ketika melihat tangan Momo berusaha memegang leher Sasha. “Ih, berisik amat lo bankir” si Momo yang sekarang sebel, tapi tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari bibir Sasha yang berkilau ranum.

Momo langsung menyergap bibir Sasha yang baru saja memajukan sedikit kepalanya ke arah Momo. Agak gelagepan karena serangan mendadak ini, Sasha buru-buru balas melumat bibir bawah Momo. Lidah mereka berdua bertaut dan saling berpilin dalam lumatan ciuman yang basah. “mmmm.. mhhhh…ssmmmhhh…” desahan mereka berdua diiringi oleh kecipak basah ludah yang saling bertukaran terdengar jelas karena ketiga pasang mata lainnya hening memandang adegan ciuman tersebut tanpa berkedip. “Ahh.. jago juga ni anak cipokannya” batin Sasha tanpa sadar memuji ciuman ganas Momo. “Aduh.. basah deh.. Sebeelll..” jerit hati Sasha lagi.

“STOP!” teriakan Danan yang tiba-tiba mengagetkan insan-insan muda ini dari aktivitas dan fantasi mesumnya masing-masing. “Udah pas 30 detik nih” kata Danan pelan berusaha mohon maaf atas pandangan tidak terima dari Randy dan Momo, termasuk Sasha dan Vani juga. Sasha masih agak gelisah dan tertunduk dengan pipinya agak bersemu merah ketika Randy (yang sangat tidak terima karena Momo yang dapat aktivitas mengaksyikkan lebih dahulu) memulai putarannya.

Sampai beberapa putaran kemudian, kartu-kartu yang muncul meliputi: Vani yang harus menari erotis selama 30 detik (menyebabkan Momo melongo dan Danan air liurnya menetes tanpa sadar), Momo yang harus melepas kaosnya (diiringi protes tidak niat dari Vani dan Sasha yang merasa tertipu karena ga ada omongan bahwa ada kartu-kartu yang hukumannya lepas baju. Randy berkelit dengan berkata bahwa dia juga tidak hapal keseluruhan isi kartu. Tapi Randy tidak mengatakan kepada kedua cewek tersebut bahwa masih ada 4 kartu lainnya yang senada), lalu keberuntungan dewa mesum yang kembali berpihak ke Randy karena mendapat “hukuman” untuk menciumi leher dan telinga Vani (yang dinikmati Vani tapi mati-matian tidak diakuinya. Padahal semua orang jelas-jelas melihat Vani memejamkan mata dan mendesah pelan walo sekejap ketika lidah Randy menjilatinya kupingnya). Momo mau membayar berapa saja untuk bertukar posisi dengan Randy untuk “menjilati” leher Vani, karena jujur aja, sejak Vani keluar dari kamar mandi tadi, Momo udah nafsu habis sama ni cewek.

Akan tetapi, dewa mesum menjawab juga doa Momo ketika bidak Vani mendarat di properti Momo di area Merah. Dan karena inilah, Vani dan Sasha baru sadar mengapa area merah harganya paling mahal. “Ayo cepat ambil kartunya” desak Momo tidak sabar kepada Danan. Buru-buru Danan mengambil kartu “RENT” merah dan membacanya “Pemilik properti berhak memegang, membelai dan meremas dada ATAU pantat penyewa properti selama 1 menit”. Tangan Danan sampai agak gemetaran demi membaca hal tersebut. Dia tidak percaya keberuntungan Momo. Protes Vani langsung meledak “Ahhhh… apaan tuh bayarannya” protes si Vani sambil merebut kartu dari Danan dan membacanya sendiri. Pipi Vani langsung bersemu merah. Vani membuang kartu tersebut dan melindungi dadanya dengan kedua tangannya “Ga mau ah gue” ujar Vani sambil cemberut memandang Momo yang senyum mesumnya melebar. “Ayo Van, kan elo udah setuju sama aturan maennya” rayu Momo sambil berusaha lembut menyingkirkan tangan Vani dari dadanya. Vani tetap bersikukuh melindungi dadanya sampai Danan berkata “Kalo gitu BB dan uang Mbak Vani, Danan sita”. “Yahh.. kok elu gitu Dan” melas Vani. Sasha ikut menimpali “Yee tadi aja lo dukung Randy nyipokin gue. Giliran elu, ga mau” balas si Sasha nakal. “Ran, Dan, pegangin aja tangan si Vani” tambah Sasha yang langsung disanggupin oleh Randy dan Danan penuh semangat. 

“Udah.. udah.. ga usah dipegangin. Kaya gue maling aja” kata Vani akhirnya menyerah. “Buka kaos lo kalo gitu dong Van” perintah Momo penuh kemenangan. “Eh, ga ada perintahnya untuk buka baju wek” balas Vani sambil memeletkan lidahnya. “Mbak Vani bener Mas Mo” bela Danan yang dibalas dengan lirikan mematikan Momo. “Ya uda, busungin dada lo kalo gitu Van” ujar Momo penuh pengertian. “Napa lo ga milih pantat aja Mo” Vani masih mencoba menawar. “Ga. Gue maunya toket lo. Titik!” tegas Momo berwibawa. Akhirnya, Vani pun pasrah pada nasibnya dan sedikit membusungkan dadanya ke arah Momo. Detik itu juga Momo melihat satu keanehan dari dada Vani. “Eh, kok kayaknya ada yang salah sama toked ni cewek” batin Momo bertanya-tanya sambil menjulurkan kedua tangannya menggapai dada Vani. Jantung Vani berdetak dua kali lebih cepat demi menghadapi sentuhan cowok asing di salah bagian tubuhnya yang sangat privat. Rasanya tidak karuan menunggu detik-detik kedua tangan Momo merengkuh kedua bongkah susunya. “Aduhh.. gue kan ga pake BeHa. Pasti Momo langsung sadar kalo gue ga pake begitu toket gue dipegang” batin Vani panik, dadanya berdebar kencang mengantisipasi kedatangan jemari Momo. Dan benar saja, begitu telapak tangan Momo menyentuh gunungan dada Vani, Momo langsung menyadari apa yang tadi menarik perhatiannya.

“Eh, lo ga pake BeHa Van?” kata Momo berbinar-binar sambil mulai meremas-remas gundukan daging kenyal tersebut. “Uh-uh..” cuma itu suara yang keluar dari bibir sensual Vani. “Yang bener Mom?” tanya Randy tercekat tidak percaya. “Nih” kata Momo sambil kedua pasang jemari tangannya membentuk hurup C besar memegang toket Vani di pangkalnya dan menarik kain kaos mengencang. Sehingga toket Vani menjeplak jelas di kaosnya menunjukkan kedua putingnya yang tanpa pelindung. Mata Randy dan Danan nyaris meloncat keluar melihat siliuet keindahan toket bulat besar dengan puting menjeplak jelas. “Ahhh… apaan sih.. Buruan deh” rengek Vani tengsin ketahuan tidak pake beha. Momo tentu saja tidak menyia-nyiakan sedetik pun lagi untuk menikmati kelembutan dan kekenyalan toket cewek bahenol ini karena waktu terus berputar. Momo juga baru sadar kalo toket Vani sangat besar, karena dari tadi terkubur dibalik tshirt gombrangnya. “Buset Van, besar amat toket lo. Bener-bener toge neh” puji Momo sambil menelan ludah berkali-kali. Jemari Momo dengan buasnya berputar-putar dan meremas-remas penuh nafsu gundukan daging Vani tersebut. Diselingi dengan pijitan dan pilinan di kedua putingnya. “Auuh… jangan keras-keras Mo” kata Vani pelan setengah mengerang. Tapi suara erangan Vani malah semakin memicu nafsu birahi Momo dan akibatnya serangan jemari Momo semakin brutal. Vani sampai harus menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.

Vani menggigit bibirnya agar erangan dan desahannya tidak sampai keluar. Remasan kasar di sekujur toked dan putingnya memberikan rangsangan yang menyenangkan bagi tubuhnya. Tapi sesekali erangan dan desahan tanpa terkendali keluar dari sela-sela bibirnya yang penuh. “Aduhh.. sialan banget nih toket. Kok jadi keenakan gue diremas-remas gini” rutuk batin Vani yang berperang antara gengsi dan kenikmatan birahi. Vani semakin blingsatan menahan konaknya karena jemari Momo tidak hanya meremas-remas bongkahan susunya, tapi juga dengan ahlinya memilin-milin puting susunya. “Sshhh… Mom… kan cuma remes-remes aturannya… ohh..” desis Vani tidak berdaya. 

Kontol Randy dan Danan makin ngaceng melihat adegan tersebut. Sampai Vani tiba-tiba berkata “Ehhh.. udah berapa menit nih Dan”. Kaget, buru-buru Danan melihat stopwatch di HP-nya. “Eh, oh.. udah.. udah abis waktunya” kata danan panik. Vani buru-buru mendorong Momo menjauh. “Udahan tau.. Kesenengan lo ya” maki Vani sambil memonyongkan bibirnya. “Pasti lebihnya banyak tuh” selidik Vani tajam ke Danan. “Ng… nggak kok… cuma beberapa detik” gagap Danan sambil cepat-cepat mereset waktu di stopwatch-nya yang sebelumnya menunjukkan 1 menit 43 detik.

Aura birahi di kamar Sasha menjadi semakin kental setelah adegan Momo vs Vani barusan. Ditambah lagi Sasha dengan erotisnya membelai paha Vani sambil berkata “Lo pasti sekarang horny kan Hottie”. “Enak aja!” tukas Vani pendek berusaha keliatan tidak terpengaruh oleh remasan-remasan Momo. Tapi semua bisa melihat bahwa Vani bohong, karena sekarang dengan jelas putingnya terlihat mengacung dari balik kaosnya. Sasha hanya tersenyum nakal melihat toket Vani yang lebih jujur menunjukkan apa yang sedang terjadi di dalam tubuh Vani. “Ayo ah, lanjut lagi” Vani berusaha mengalihkan perhatian mereka dari dirinya. Setelah gerakan-gerakan gelisah Randy, Momo dan Danan untuk diam-diam memperbaiki posisi penis masing-masing yang menggeliat membesar butuh ruang yang lebih lapang, permainan berlanjut lagi.

Setiap dadu dilempar, keempat pesertanya menahan nafas dan deg-degan. Randy dan Momo deg-degan karena mereka sadar tumpukan kartu semakin tipis dan mereka sudah menguasai hampir semua properti di area merah dan hijau, yang menandakan hukuman-hukuman yang lebih “menyenangkan” semakin besar kemungkinan keluarnya. Terutama mereka berharap agar kedua cewek tersebut masuk ke properti mereka karena “bayarannya” yang lebih menggiurkan. Sedangkan Vani dan Sasha harap-harap cemas “hukuman” macam apa yang akan keluar lagi. Cemas kalau seintim acara remas-meremas lagi, bisa-bisa jebol pertahanan mereka dan malah minta nambah. Gengsi dong. Apalagi Vani, karena sejak toket-nya mendapat serangan “brutal” dari Momo, bibir bawahnya mulai berkedut-kedut gatal minta disentuh juga. Kedua cewek tersebut setengah berharap bahwa seiring lamanya permainan, level horny mereka bisa turun. Tapi, harapan tinggal harapan, karena begitu tiba giliran Sasha, bidaknya dengan sukses masuk ke kotak Chance!

“Aaaaa… kok gue kena chance lagi..” rengek Sasha. Walaupun begitu Sasha tetap mengambil satu kartu Chance dan membacanya. “Tuuhh kan.. kena lagi gue” rengekan Sasha berlanjut sambil menunjukkan kartunya ke Vani. “Lepaskan bajumu. Tapi, bila sebelumnya sudah lepas baju, maka lepaskan bawahanmu” baca Vani. Langsung sorak-sorak team cowok untuk menyemangati Sasha terdengar “Buka bajunya.. Buka bajunya.. Buka baju..”. “Ya.. ya.. gue buka.. gue buka” potong Sasha merajuk. “Hu-uh, ga sabar amat sih” omel Sasha sambil mulai mengangkat t-shirt-nya melewati kepalanya. Gerakan Sasha membuka baju betul-betul erotis. Apalagi setelah kaosnya terbuka semua. Tubuh bagian atas Sasha hanya ditutupi bra hitamnya yang kontras dengan kulit putihnya. Setengah gundukan toket putih 34B Sasha terlihat mengundang untuk dijamah.

Jengah oleh pandangan mesum Randy dan Momo (Danan pura-pura sibuk menata kartu. Mukanya merah banget), Sasha reflek menutupi dadanya. “Apaan sih ngliatinnya sampe kaya gitu” Sasha berlagak sebel. “Hehehe.. malah lo harusnya bangga Sha. Itu artinya body lo bagus, sampe-sampe kita terkagum-kagum” kata Randy mesum sambil masih berusaha mengintip ke dada Sasha yang berusaha dilindungi oleh kedua tangannya. “Ayolah Sha, ngapain ditutup-tutupi segala. Itung-itung amal” tambah Momo. “Iihh.. maunya kalian” cibir Sasha. “Ayo ah, lanjutin” tambah Sasha. Sambil masih terkekeh-kekeh dan melirik-lirik mesum Randy memulai putarannya. 

Info : Jepang

Setelah itu “hukuman” dan “bayaran” semakin sadis saja. Momo tinggal make celana boxer doang, sehingga kontolnya yang ngaceng berat terlihat jelas mengacung seperti tiang bendera. Randy memang masih celana pendeknya, tapi sudah dapat kesempatan mencium dan menjilati lengan Vani sampai ke lehernya. Dan sempet-sempetnya mencoba meremas toket Vani, tapi dengan sukses dicegah oleh Danan. Randy bete abis atas sikap bankirnya yang memegang teguh job descpnya, sedangkan raut muka Vani bete tapi tidak jelas karena Randy coba-coba ngambil kesempatan grepe-grepe atau karena usaha Randy tersebut dicegah oleh Danan. Vani pun sekarang tinggal make t-shirt dan celana dalam saja (mini underwear garis-garis putih dan merah) karena kena hukuman lepas celana. Tapi yang paling parah adalah Sasha. Memang tidak kena hukuman yang harus kontak fisik dengan Randy ataupun Momo lagi, tapi sekarang dia cuma ditutupi selembar celana dalam hitam saja. Sehingga tangannya kebingungan mau menutupi bagian tubuh yang mana.

“Seepp.. bayar Vann..” teriak Randy bahagia begitu bidak Vani mendarat di propertinya. Danan dengan cepat mengambil kartu “RENT” dari tumpukan warna merah. Begitu membaca kartu tersebut, mata Danan membeliak dan mulutnya menganga. Anak-anak yang lain jadi ga sabar karena Danan gagap baca kartu tersebut. Karena ga sabar, Randy merebut kartu dari tangan Danan dan membacanya. Seringai mesum langsung muncul di wajahnya. Tanpa berkata-kata Randy memberikan kartu tersebut ke Vani. “Waaaa… gila looo…” pekik Vani sambil melempar kartu tersebut. Isi kartu tersebut adalah “Bila pemilik properti adalah cewek, maka penyewa memberikan oral selama 2 menit. Bila pemilik properti adalah cowok, maka penyewa memberikan tits-job selama 2 menit”. Terkekeh senang, Randy mulai melepas celana pendeknya. Sedangkan Vani langsung beringsut mundur sampe menempel ke dinding.

“Van, lo ga fair amat sih. Giliran gue aja, lo manas-manasin si Randy dan Momo” omel si Sasha tapi sambil cengar-cengir. “Lo bukannya nolongin malah bela Randy” Vani manyun diserang oleh Sasha. Dengan semangat membela kemesuman, Momo dan Danan mendekati Vani dari kedua sisi dan menarik Vani mendekati area permainan. Mendekati Randy yang sudah duduk di tepi ranjang Sasha dan sudah memelorotkan celana dalamnya sehingga kontolnya yang tegak mengacung mengangguk-ngangguk seolah memanggil-manggil Vani. “Aaa.. Aaa… Aaa… Ga mau ahh.. Apaan sih kalian” Vani merengek-rengek ketika ditarik oleh Momo dan Danan berlagak ga mau memenuhi “kewajibannya”. Akan tetapi, sebenarnya tidak susah-susah amat menarik Vani untuk mendekati Randy.

Akhirnya Vani bersimpuh di hadapan kontol eh Randy. Tapi masih memalingkan mukanya yang memerah dari Randy. “Ayo Van, cepat dimulai” kata Randy sambil membungkuk dan menjulurkan tangannya untuk mengangkat t-shirt Vani. “Ehh.. kan ga ada tertulis di kartu gue harus buka baju segala” sergah Vani cepat sambil menahan t-shirt-nya agar tidak terangkat. “Gimana caranya lo mo ngasih tits fuck kalo kaos lo ngalangin” balas Randy agak geli. “Udahlah Van. Cuma 2 menit ini. Lagian lo juga demen hihi” Sasha ikut nimbrung. “Aah.. apaan sih lu Sha” rajuk Vani, tapi melonggarkan pegangan pada ujung t-shirtnya. Akibatnya dengan mudahnya Randy mengangkat t-shirt Vani dan mengungkap gunungan daging putih di baliknya. Randy, Momo dan Danan langsung terkesiap dan menahan nafas selama beberapa saat demi melihat pemandangan indah yang sejak tadi sudah mereka nanti-nantikan: toket massive Vani.

Tanpa sadar tangan Randy bergerak berusaha menjamah toket Vani. PLAK! Dengan sukses digampar oleh Vani kedua tangan jahil tersebut. “Ga usah pegang-pegang!” kata Vani galak sembil melotot ke Randy. “Udah lo duduk manis aja, yang penting lo dapat boobs job dari gue” tambah Vani. “Danan, mulai stopwatch-nya” kata Vani lagi tanpa menoleh ke Danan. Danan membuka pahanya dan sedikit bersandar ke belakang di tahan oleh kedua tangannya, membuat dirinya senyaman mungkin sebelum 2 menit kenikmatan yang menjelang. Dibiarkannya Vani menempatkan tubuhnya di tengah-tengah pahanya, dan menikmati setiap detik mulai bagaimana kedua tangan Vani memegang kedua bongkah susunya, lalu menjepit kontol Randy yang tegak berdiri. “Ohh. Ssshhhhhh..” desis Randy tidak tertahankan begitu merasakan himpitan hangat toket Vani pada kontolnya. Vani pun mulai menggerakkan kedua toketnya naik turun mengocok kontol Randy. Gerakan kocokannya bervariasi: mulai kocokan di sepanjang batang kontol, kadang diselingi gerakan menggiling pal-kon selama beberapa detik yang membuat Randy menggelinjang dan mengangkat-ngangkat pantatnya saking nikmatnya. “Hohh.. Hmmpphhh.. Gilaaa.. Enak banget toket lo Vann..” desah Randy keenakan.

Birahi Randy semakin menggila, apalagi melihat pemandangan toket besar yang diremas-remas pemiliknya agar bisa menghimpit dan mengocok kontol Randy dengan maksimal. Randy tidak sadar bahwa Vani mulai menikmati perannya. “Mmmppff.. panas banget ni kontol di toket gue.. bikin tambah horny aja” batin si lonte mulai berperang. Akhirnya, Randy tidak tahan lagi untuk berperilaku anak baik. Kedua tangan Randy tiba-tiba meraup bongkahan melon putih Vani, lalu meremas dan menghimpitkannya lebih rapat lagi ke kontolnya. “Aehh…” pekik Vani kaget. “Ngapain sih lo Raaagghhhh…” kata-kata Vani terpotong erangannya ketika jemari Randy dengan ahlinya menarik dan memilin putingnya yang sensitif. Tanpa memperdulikan protes Vani, Randy semakin semangat meremas-remas toket Vani sambil berusaha mengocokkan kontolnya. Terdorong oleh bobot Randy, badan Vani jadi terlentang di karpet dan Randy mengangkang di atas Vani.

“Ahh.. Randy nakal” rengek Vani tanpa bisa berbuat apa-apa. Dengan buasnya Randy memaju-mundurkan pantatnya, mengocokkan kontolnya di sela-sela toket Vani yang dicengkram kuat oleh kelima jarinya. “Ajrit.. hohh..hoooh.. enak banget Van… tangan gue ga cukup.. ga cukup megang toket lo.. haahh.. hahh..” nafas Randy ngos-ngosan akibat desakan birahinya yang makin menggelora. 

SLEP SLEP SLEP.. suara gesekan kontol Randy dan toket Vani ditingkahi ceracau kenikmatan Randy, menutupi suara desah dan erang tertahan Vani yang sesekali keluar dari sela-sela bibir sensualnya. Remasan dan rangsangan brutal di kedua toketnya yang untuk kedua kalinya ini ternyata mulai menjebol pertahanan Vani. “Ah.. ahh.. kok gue malah makin horny siihh… Aduhh.. mana memek ga mau diajak kerja sama, malah jadi makin gatel.. Huhuhu gue pengen dientot” runtuk Vani dalam hati. Maka, adegan yang tampaknya seperti Randy yang “memperkosa” toket Vani, sebenarnya kedua insan ini sama-sama menikmatinya. 

Ketika Randy semakin mempercepat kocokannya karena rasa gatal yang menggelitik dan menggila semakin terasa di palkonnya. Rasa gatal yang menuntut untuk digesek terus menerus, Vani juga merasakan rasa gatal yang sama menggila di setiap centi bibir-bibir memeknya yang mulai basah, membuat CD-nya agak menjeplak. Andai saja Randy dapat bertahan semenit lagi saja, maka akan terjadi double orgasm di ruangan tersebut (bayangin lo punya cewe yang dirangsang toketnya saja bisa keluar). Tapi, apa daya.. Kontol Randy tidak bisa lagi menahan dorongan kuat dari pelirnya yang mendesakkan aliran tekanan kenikmatan yang tak tertahanka. Dan akhirnya.. CROTT.. CROTT.. CROTTT… “Hoouuhhhhhh…. Haaaahhhhhh… “ Randy melenguh, badannya mengejang dan kesepuluh jarinya mencengkeram kuat-kuat kedua melon putih Vani ketika dia mencapai orgasmenya.. “Aihhh..” pekik Vani kaget nyaris berbarengan dengan Randy, ketika semprotan cairan kental sperma Randy mencapai wajahnya.

“Hoh.. hoh.. hmmmm… Enak banget..” kata Randy di sela-sela nafas memburunya setelah pacuan orgasme yang baru saja lewat. Pelan-pelan Randy bangkit dari atas tubuh Vani dan duduk bersandar di tempat tidur sambil memejamkan matanya, menenangkan nafasnya yang agak tersengal-sengal, Vani juga bangkit dari karpet. Lelehan peju Randy memenuhi toketnya, dan ada sedikit di pipinya. “Iihh… Randy sebel deh” kata Vani merungut-rungut “Jadi belepotan deh”. Tanpa berusaha menurunkan t-shirtnya kembali, Vani menoleh ke Sasha dan berkata “Shaa.. gue minta tissue. Dan pinjem kamar mandi lo”. “Eh Van… gue dulu yang make” kata Sasha tiba-tiba sambil berlari masuk ke kamar mandi. “Udah kebelet pipis nihhh.. Lo di kamar Danan aja sana gihhh” jerit Sasha dari dalam kamar mandi. “Yaa.. bokis lo Sha” kata Vani sebel. “Danan, pinjem kamar mandi lo” perintah Vani. “Eh.. oh.. iya.. iya mbak. Saya bukain kuncinya dulu” kata Danan gelagepan sambil melirik-lirik toket Vani. Tapi pemandangan itu segera hilang, karena sambil berjalan keluar menyusul Danan, Vani menurunkan t-shirtnya.

“Anjeng.. bangsatt…” tereak Momo sambil menabok kepala Randy yang masih setengah merem bersandar di tempat tidur Sasha, sepeninggal Vani dan Danan. “Adow.. napa babi? Nabok-nabok sembarangan” misuh-misuh si Randy. “Enak bener lo bisa ngentotin toket-nya Vani” balas Momo masih galak sambil nonjok-nonjokin bahu Randy. “Tadi gue liat stopwatch-nya Danan udah sampe 4 menit tuh. Tapi tu anak malah melongo sampe ilernya kemana-mana, ga juga dimati-matiin” cerocos Momo. “Maho kali lo ya Mo, kalo udah dapet kesempatan kaya tadi disia-siain.. Mana mungkinlah..” kata Randy membela diri. “Was.. wess.. woss. Terserahlah. Sekarang gue mau tao, masih ada kartu buat boobs job ga?” tanya Momo. “Eh, seingat gue cuma atu Mo” jawab Randy pelan. “Wadd..!!?? Ga asyik ah! Pasti tadi lo udah ngatur biar bisa lo yang dapet tuh kartu” tuduh Momo kejam. Rentetan omelan Momo sudah akan meluncur lagi ketika Sasha keluar dari kamar mandi sambil satu tangannya tetap melindungi toketnya. “Lah, mana Vani ama Danan” tanya Sasha polos. “Lah? Pan lo yang nyuruh si Vani pake kamar mandinya Danan?” jawab Momo. “Oh iya ya” kata Sasha bego. “Ayo, maen lage” kata Momo. “Kelamaan nunggu Vani balik. Kan nanti pas dia balik pas gilirannya”. “Iya.. iya.. Tapi Ran, lo pake celana dulu napa? Ga asoy banget ngeliatin kontie yang nyusut gitu” samber Sasha. Dengan agak males-malesan Randy memakai celananya, melewatkan CDnya yang tergeletak agak jauh di ujung ranjang.

Giliran Momo dengan cepat berlalu tanpa ada kejadian mesum apapun. Diiringi desah kecewa, Momo menyerahkan dadu ke Sasha. Momo setengah berdoa agar Sasha cuma dapat angka 4 atau 5 sehingga jatuh di wilayahnya. Tapi malang tak dapat ditolak, angka double 6 yang keluar, sehingga bidak Sasha bablas sampai ke titik start. “Giliran gue ya.. bwuhh!” Randy menyembur dadunya sebelum melemparkannya. “Atu, dua, tiga, empat, lima, enam!” Randy menghitung langkah bidaknya. Dengan sukses mendarat di property Sasha. “Hahahaha.. skarang lo yang harus bayar ke gue” tereak Sasha happy. “Mm.. apa nih bacaannya” komat-kamit Sasha sambil membalik kartu RENT warna kuning yang baru diambilnya. “Penyewa harus memberikan kepuasan kepada pemilik property dengan dildo atau vagina-toy selama 3 menit”. “Loh? Ini hukumannya buat gue apa elu sih? Kaco neh” omel Sasha. “Lah, kan elu yang dapat puasnya Sha. Berarti emang gue harus bayarnya dengan muasin elu” seringai mesum Randy muncul lagi. Sasha hanya melongo. “Hoee.. apa-apaan neh. Kok lage-lage elo yang dapat enaknya?” protes Momo sewot. Tidak memperdulikan Momo, Randy sibuk ngubek-ngubek tas yang selama ini ngejogrok tidak menarik perhatian di pojok kamar.

“Nah ini dia” kata Randy senang sambil mengangkat keluar sebatang dildo warna pink berukuran sedang dari dalam tas. “Kyaa.. lo serius Rand?” teriak Sasha sedikit agak keras karena kaget melihat persiapan Randy. “Ayo.. buka paha lo neng” kata Randy mesum sambil merangkak mendekati Sasha. Dildo sepanjang 15 cm dan diameter 3,5 cm terlihat agak mengancam sehingga reflek Sasha merapatkan pahanya, sambil tetap menutupi toketnya yang polos. “Mo, bukain paha Sasha dong” pinta Randy sambili menoleh ke Momo. Tidak perlu diminta dua kali, dengan semangat Momo beringsut mendekati Sasha. “eh.. eh.. ga usah.. ga usah. Ga perlu Momo ikut-ikutan” Sasha akhirnya bekerja sama juga. “Tapi ga perlu buka CD bisa juga kan?” Sasha tetap menawar agak memelas. “Ya boleh aja” kata Randy sok tidak butuh, “Tapi gue eksekusinya dari belakang elu ya” tambah Randy. “Hah? Gimana? Ga ngarti gue” sahut Sasha agak bingung. “Udah, lo ngikut aja” jawab Randy sambil bergerak dan duduk di belakang Sasha.

“Buka paha lo Sha” bisik Randy di telinga Sasha, membuat Sasha sedikit menggelinjang karena hembusan nafas hangat Randy membelai lehernya. Karena Sasha masih sungkan-sungkan membuka pahanya, tangan Reno dari balik punggung Sasha bergerak membuka paha Sasha. Akibatnya Sasha terpaksa menyandarkan punggungnya di dada Randy dan membuka pahanya. Detak jantung Sasha mulai berpacu lebih cepat. Takut, malu dan sekaligus mengharap membuat rona merah di pipi Sasha semakin terlihat.

Randy mulai menggesek-gesekkan ujung dildo ke belahan memek Sasha yang masih tertutup underwear mini warna hitamnya. Tubuh Sasha menegang begitu bibir memeknya menerima tekanan dan gesekan dari benda tumpul tersebut. Setelah beberapa saat adegan pemanasan yang menegangkan tersebut, Sasha tiba-tiba teringat sesuatu. “Mo, cek stopwatch-nya dong” kata Sasha berusaha mengeluarkan suara yang tenang, tapi malah suaranya agak tercekat dan serak. “Lo mulai horny kan Sha.. Udah nikmatin aja” bisik Randy lagi sambil menggigit-gigit kecil kuping Sasha. “Shhhh… emmhhh.. ga boleh gigit-gigit Rand…” desah Sasha pelan masih berusaha terlihat kuat tidak tergoda, tapi pinggulnya mulai bergerak-gerak seirama gesekan dildo.

Tanpa disadari Sasha yang birahinya mulai naik, jemari tangan kiri Randy mulai menyibakkan kain CD Sasha kesamping, sehingga memek Sasha yang mulus karena jembinya diwax tampil ke permukaan. Momo sudah memposisikan duduk tepat di seberang Sasha, menelan ludah berkali-kali ketika melihat pemandangan indah gundukan memek dari sebaris tipis belahan merah kecoklatan di tengahnya. Pelan-pelan Randy menekankan ujung dildo membelah memek Sasha yang sudah agak mengkilap basah. “SLEEPP…” suara pelan benda tumpul yang membelah himpitan rapat dinding-dinding basah memek Sasha terdengar, disusul oleh lenguhan Sasha yang kaget karena disusupi benda asing. “Ouhhhh…” lenguh Sasha yang matanya langsung terbuka lebar. “Uhh.. bilang-bilang dong kalo mo masukin..hmmmppff..” rengek Sasha sambil memukul paha Randy pelan.

Rengekan Sasha tidak berlanjut lebih lama lagi, karena Randy mulai mengocokkan dildo tersebut. Ditariknya perlahan-lahan dildo keluar dari memek Sasha, lalu menekannya lagi amblas ke dalam sampai cuma sisa 2 cm untuk dipegang saja. Sasha menggeliat gelisah, karena nikmat birahi semakin menggelora di sekitar selangkangannya. Tangannya kini tanpa sadar tidak melindungi toketnya lagi. Sibuk meremas paha Randy. Sehingga toketnya yang bundar mancung berukuran 34B terlihat jelas, tegak menantang. Aerolanya yang pink kecoklatan melebar dan putingnya yang ereksi penuh menandakan Sasha sudah horny habis. “Uhh.uhh.. uhh.. ssshhhh…” desah Sasha seirama kocokan dildo di memeknya yang basah kuyup. Birahi Sasha semakin tidak tertahankan karena kini tangan kiri Randy meremas-remas toketnya dengan brutalnya. Ditekan dengan telapak tangan, lalu diremas kuat-kuat dan akhirnya diperas-peras seperti hendak mengeluarkan susunya. “Ouuhhh.. anjeenggg… Gue ga tahan lagi.. Gatel bange memek gueeee.. Bodo ah, yang penting gue puasin dulu ni memek” kata Sasha dalam hati yang akhirnya menyerah oleh godaan birahi dan dildo yang menyesaki liang kawinnya. “Nggaahhhh.. lo.. lo aphain toket gue Rannn… Kan ga bol.. Hoohhh..” ceracau Sasha diselingi desahan erotisnya malah membuat Randy semakin buas. 

Suara berkecipakan basah dari dildo yang keluar-masuk dengan cepat di memek Sasha menjadi soundtrack yang melengkapi pemandangan bokep live show di depan Momo. Sasha yang duduk mengangkang, dikocok dildo yang menjadi mengkilap basah oleh cairan memek, dan geliat sexy tubuh Sasha mendapat ransangan dari dildo di memeknya dan remasan-remasan tanpa ampun pada toketnya, membuat konak Randy dan Momo semakin tidak tertahankan. Bahkan Momo sudah mendesah-desah sendiri sambil mulai mengocok kontolnya perlahan, betul-betul melupakan tanggung jawabnya untuk menghitung waktu.

“Enak nggak Sha dildonya” bisik Randy disela-sela gigitan-gigitan kecil di leher dan telinga Sasha. “Hmmmppfff… ssshhhhh..oohh.. Yahh.. ennhhakk Ran…ennakk… ahhh..” erang Sasha yang sedang berada di langit ketujuh. “Cep.. cepetin ngocoknya Ran.. gue ampir nihh… hhhhhhmmmm…”.
Tidak perlu diminta dua kali, Randy mempercepat RPM kocokan di memek Sasha, membuat gelinjang tubuh Sasha semakin liar. “Gillaa.. gilla… memek gue makin gatel aja.. Aduhh gue ga kuat lagi..” batin Sasha ikut-ikutan meceracau liar. 30 detik kemudian….
“Ngggaahhhhhhh…… Ouuhhhhhhh…. Gilllaaaaaaa… “ lenguh panjang Sasha yang erotis dan tubuhnya yang mengejang-ngejang sampai punggungnya agak melengkung menjadi tanda betapa dahsyatnya ledakan orgasme yang terjadi. “Houhhh.. ouhhhh…. Hmmppffff.. sshhh…” desah nafas Sasha melepaskan setiap titik nafsunya.

Agen Domino Online Terpercaya

Sesudah badai orgasme yang berlangsung selama sekian detik yang menghanyutkan, tubuh Sasha bersandar lemas di dada Randy. Matanya terpejam, deru nafas memburu masih terdengar dari sela-sela bibir Sasha. Randy membiarkan saja dildonya di dalam memek Sasha. Tapi, kecupan-kecupan di sekujur pundak Sasha, dibarengi belaian-belaian dan remasan-remasan lembut pada gundukan daging berwarna putih di dada Sasha tetap berlanjut. Sasha menikmati setiap detik perlakuan Randy tersebut, sehingga tidak sadar bagaimana mini CD-nya mulai dilucuti oleh Momo.

Momo menelan ludahnya kembali begitu melihat selangkangan Sasha yang polos tidak lagi terlindungi oleh CD-nya. Memek putih dengan hanya sepetak jembi di bagian atasnya, terlihat menggunung dan mesum karena sebatang dildo mencuat di tengah-tengahnya. Tanpa meminta ijin Sasha, Momo mencabut keluar dildo tersebut dalam sekali tarik.

“Aihhhhh..!” pekik Sasha kaget sampai matanya terbeliak karena rasa mengganjal di memeknya tiba-tiba hilang diiringi gesekan di sekujur dinding memeknya. “Mau ngapain lo?” pekik Sasha lagi karena kini doi melihat Momo sudah bugil di depannya dengan kontol hitam berurat yang mengacung tegak siap tempur. “Hehehe.. Sekarang giliran gue bayar Rent Sha. Gue bayar kontan!” kata Momo terkekeh mesum, seraya bergerak membuka paha Sasha lebar-lebar dan menempatkan tubuhnya di tengah-tangahnya.

“Ahh.. Momo.. Gue ga mau…” rengek Sasha sambil berusaha bangun untuk mendorong pergi tubuh Momo. Namun dengan sigap Randy menahan tubuh Sasha agar tetap setengah terbaring, bersandar di dadanya. “Sudahlah Sha, ga mungkin lo udah puas sama dildo kecil kaya gitu” kata Momo dengan nafas yang memburu sambil kedua jempolnya merekahkan bibir tembem memek Sasha untuk memberi jalan bagi kontolnya. “Biar gue tunjukin enaknya kontol sejati” tambah Momo sambil melesakkan kontol hitamnya ke himpitan lubang merah muda Sasha.

“Houuuuuhhh.. “ lenguh Sasha tidak tertahankan ketika dinding-dinding memeknya tiba-tiba disesaki benda asing yang lebih tebal daripada yang sebelumnya. Mata Sasha membeliak nanar menatap tidak fokus pada cowok di depannya sambil mengigigit bibir bawahnya. Raut mukanya sedikit banyak menunjukkan apa yang sedang berkecamuk di otaknya, dan di memeknya tentu saja. “Anjrittt.. tebel amat kontol si Momo. Penuh banget rasanya memek gue” maki Sasha dalam hati. Menimbang pilihan-pilihan yang tersedia saat itu, akhirnya detik berikutnya Sasha mengambil keputusan yang paling masuk akal. Sasha membuka pahanya lebih lebar lagi, dan bersiap menikmati pertempuran sex yang menjelang. Bring it on, boys!

Pinggul Momo mulai bergerak maju mundur secara sistematis, menghantam selangkangan Sasha berkali-kali dengan penuh dedikasi. Setiap bagian dinding memek Sasha menjerit bahagia menerima gesekan kontol hitam berurat, sehingga cairan cinta pelumasnya membanjir menimbulkan bunyi berkecipakan becek. “Oooohhh… ohhh… Iya behnerr gitu Mo.. teruss Mo.. aaahhhh…” desah Sasha yang tubuhnya menggelinjang binal, hanya tertahankan oleh dekapan Randy yang tetap sibuk menggarap kedua toket 34B-nya.

Tidak sampai 5 menit sejak gempuran kontol Momo, Sasha mulai merasakan lagi sensasi gatal yang semakin menggila mengumpul di bibir-bibir memeknya. Tapi, ketika rasa birahi itu sudah hampir sampai di puncaknya…. “Mo, stop dulu. Pindah ke ranjang aja, gue juga pengen ngentotin Sasha” kata Randy tiba-tiba. “Eh.. oh.. sel.. selesein dulu dong..” rajuk Sasha. Tapi, Momo sudah mencabut kontolnya, dan mereka berdua membopong Sasha ke atas ranjang.

“Mo, giliran gue make memeknya ya” pinta Randy yang langsung di-acc oleh Momo. “Nungging Sha” perintah Momo yang menempatkan dirinya di depan Sasha. Sasha betul-betul nervous karena ini adalah pengalaman pertamanya three-some. Well, like once a wiseman said, there will always a first time for everything. Sasha tidak bisa ragu-ragu lebih lama lagi, karena Momo sudah mendorong kontolnya untuk masuk ke mulut mungil Sasha. “Ohumm..” Sasha agak gelagepan ketika mencoba mengulum kontol Momo yang tebal. Tapi itu hanya untuk sesaat. Dengan lihainya Sasha melumat-lumat palkon Momo, lidahnya dengan binal menjilati lubang kontol dan diselingi sedotan agak kencang yang membuat Momo melenguh keenakan. Momo menjambak rambut Sasha dan mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, ngentotin mulut Sasha dengan buasnya.

Sedang asyik-asyiknya menyepong kontol Momo, tiba-tiba Sasha dikagetkan lagi oleh penetrasi kontol Randy dari belakang. “Ngouhh..” lenguh Sasha tidak jelas karena mulutnya penuh oleh kontol Momo. “Ssshhh… mantep banget emang memek lo Sha. Masih rapet aja” puji Randy sambil memulai gerakan menyodok-nyodok yang mantap. Sasha jadi susah berkosentrasi untuk menservis kontol Momo, karena kocokan kontol Randy membuat gatal di memeknya menggila lagi. Kini Sasha hanya membiarkan mulutnya terbuka dan dikentot oleh Momo karena pikirannya tercurah pada betapa nikmatnya gesekan kontol Randy pada dinding-dinding memeknya. Pacuan nafsu ketiga insan muda ini memasuki babak yang panas membara. Sementara itu, bagaimana kabar Vani? Kenapa dia belum balik juga ke kamar Sasha? Mari kita cari tau. Yuukk.


Mari mundur beberapa menit yang lalu ketika Vani keluar dari kamar Sasha, membuntuti Danan menuju kamarnya untuk pinjam kamar mandi.

Di luar kamar Sasha, suasana kos-kosan lenggang, karena memang hujan masih tercurah dengan derasnya. Suaranya menderu-deru lebih keras di luar sini. Adem kaya gini, emang lebih enak buat ngelungker tidur, atau ngentot hehehe. Makanya Vani cuek aja hanya memakai t-shirt gombrang tanpa celana pendeknya lagi, lari-lari kecil ke kamar Danan yang letaknya tepat di sebelah kamar Sasha. Toh, tshirtnya menutupi seperempat pahanya.

Danan dengan gugup mencoba membuka kunci kamarnya, namun tidak berhasil-berhasil membuat Vani semakin jadi tidak sabar. Rasa lengket-lengket di dadanya ingin cepat-cepat dibasuhnya. Apalagi kini peju Randy menciptakan pulau-pulau di tshirtnya. Karena tidak sabar, Vani mencoba membantu Danan membuka kunci pintunya. Vani tidak sadar bahwa upayanya itu malah membuat toketnya menempel pada punggung Danan. Nyaris tersedak bahagia, Danan menjatuhkan kuncinya. “Ahhh… rempong amat sehh” kata Vani sebel sambil mengambil kunci di lantai tanpa rasa bersalah. Dengan mudah Vani membuka kunci pintu kamar Danan dan membuka pintunya.

Tanpa babibu lagi Vani langsung masuk ke kamar mandi Danan yang letaknya dipojok kiri kamar. Di dalam kamar mandi, Vani langsung membuka t-shirtnya dan langsung menyiram tubuhnya dengan air dari shower. Dibersihkannya sisa-sisa peju dari toketnya. “Ah.. segar.. “ kata Vani dalam hati sambil masih mengusap-ngusap gundukan mancung toket 36C-nya. Tanpa sadar usapan-usapan itu berubah menjadi remasan-remasan yang erotis. “Ssshh… kok horny gue belum ilang ya. Kupret juga si Randy.. hmmmppffff..” batin Vani, yang kini jemarinya memilin-milin putingnya yang makin tegak dan keras. Birahi Vani muncul kembali karena nafsu birahi tersebut sudah menumpuk sejak dimulainya game sexopoly, dan semakin menumpuk seiring “hukuman-hukuman” erotis yang diterima dan dilihatnya. Seolah-olah game Sexopoly tersebut berlaku seperti foreplay selama 1 jam (bayangkan rasanya sodara-sodara!). Hal yang sama terjadi pada setiap peserta game itu tadi. Kini nafsu tersebut semakin membesar dan menuntut pemuasannya. 

“Ah.. basah deh CD gue” tiba-tiba Vani tersadar dia lupa melepas CD-nya. Vani pun membungkukkan tubuhnya sambil mengangkat satu kaki untuk meloloska CD-nya. Ada satu hal lagi yang Vani lupakan. Dan lupa yang satu ini lebih besar implikasinya.

Vani lupa mengunci pintu kamar mandi! Sepasang mata yang membeliak penuh nafsu telah mengamati setiap gerakan remas-meremas Vani. Ketakutannya terlalu besar untuk mengambil langkah apa yang lelaki sejati eh mesum harus lakukan ketika melihat cewek ngremes-ngremes toketnya sendiri. Tapi, cowok polos pun ada batasnya. Batasnya adalah gerakan membungkuk Vani untuk melepas CD-nya. Dalam sekali gerakan yang luar biasa, Danan melepas semua pakaiannya, berdiri bugil, lalu membuka pintu kamar mandi lebar-lebar dan melangkah penuh nafsu menggelora menghampiri tubuh polos Vani di bawah shower.

“Aiiihhhh….” Vani terpekik kaget ketika 2 tangan tiba-tiba mendekapnya dari belakang dan langsung meremas-remas bongkahan pepaya bangkoknya. Vani langsung tahu itu adalah Danan. “Danan! Ngapain sih lo!” teriak Vani lagi. Danan yang sudah kesetanan malah semakin erat memeluk Vani dan semakin gencar meremas-remas toket Vani. “Mbak.. mbak.. lo sexy banget.. Gue pengen ngentotin lo mbak Van..” suara Danan yang penuh nafsu parau menjawab pertanyaan Vani. Bahkan kini Danan mencoba menyodok-nyodokkan kontolnya ke pantat Vani.

“Ahh.. ahh… Danan.. Dan…. Jangan disitu… jangan disitu” teriak Vani panik sambil kedua tangannya bersandar pada dinding kamar mandi karena desakan tubuh Danan. Danan yang penuh nafsu buta tidak sadar palkonnya berkali-kali mencoba mendesak masuk ke lubang anus Vani. Maka itu si cewek bahenol ini blingsatan panik. Tapi tak urung lenguhan-lenguhan tak tertahankan tanpa sadar keluar dari mulut Vani ketika ujung kontol Danan mendesak-desak lubang anus Vani, karena lubang anus adalah salah satu titik sensitif Vani.

“Rouuhh.. ngahh.. bukan.. bukan di situ Dan.. jangannn… houuhhh..” pekik mesum Vani semakin tidak jelas dan Vani sudah hampir menyerah. Tapi ketika kontol Danan betul-betul masuk ke lubang pantat semok Vani hampir 1cm, Vani memekik keras “AAAAHHHHH… DANNNANNNN…!” Dan pekikan ini menyadarkan Danan.

“Eh.. sorry.. sorry mbak.. Danan kebawa nafsu” “Hah..hah.. hiya.. iya.. gapapa..” jawab Vani tersengal-sengal. “Tolong pelan-pelan cabut kontol lo. Ngentotnya selow aja ya” pinta Vani memelas. “Iya.. iya mbak” kata Danan sambil menarik mundur pantatnya. PLOP! “Aiiihhhh…” pekik Vani kaget ketika sesakan kontol melepaskan diri dari ujung lubang anusnya.

“Nah.. lo masukinnya ke memek gue yah..” kata Vani pelan seraya menyandarkan tangannya di dinding lebih nyaman lagi, membungkukkan tubuhnya, membuka pahanya lebar-lebar dan menunggingkan pantatnya sehingga belahan memek tembemnya terpampang jelas. Danan nyaris pingsan tidak percaya melihat cewe sesexy bintang bokep menungging di depannya siap untuk doggie style.

“Jangan cuma diliating doang dong.. “ rajuk Vani yang agak tengsin karena posisi mesumnya dianggurin oleh Danan yang masih bengong terpana. “Eh iya mbak” kata Danan tersentak dari keterpanaannya, bergerak menjamah pantat Vani. Mengagumi pantat nonggeng Vani, Danan meremas-remas kedua belahan pantat semok tersebut. Vani hanya mendesis-desis perlahan, menikmati sensasi ransangan tersebut.

Tiba-tiba Danan malah jongkok di antara paha Vani. Vani yang sebenarnya sudah bersiap-siap menyambut penetrasi kontol Danan jadi terheran-heran dan sedikit sebel. Vani menjulurkan lehernya ke bawah dan melongok ke belakang melalui sela-sela pahanya dan melihat Danan memandangi memeknya. “Danan, lo mau ngentot atauuuuuu.. uuhhhhhh…sshhhhh” pertanyaan Vani terpotong ditengah jalan dan digantikan oleh desisan kenikmatannya. Karena pada detik itu juga, mulut Danan mencaplok bulat-bulat gundukan memeknya.

Sudah lama Danan ingin melakukan ini, melakukan oral ke memek cewek. Dilumatnya bibir memek Vani, dihisap-hisap dengan suara seruputan yang mesum banget sambil kedua tangannya sibuk meremas-remas pantat Vani. Si cewek lonte ini jadi menggelinjang keenakan karena servis oral Danan yang brutal. Apalagi ketika lidah Danan mulai membelah masuk dan menggeliat-geliat didalam memek Vani. Rasanya? Luar biasaaa… “Ohh.. fuccckkkk…. Enak banget sihhhh…” maki Vani dalam hati. “HHHoohhhh… yahhh… yahhhh… ngahhhhh… ya kaya gitu Dan.. kaya gitu…shhhh…” ceracau liar Vani membahana di dalam kamar mandi.

Kenikmatan liar hewani menyeruak dari setiap sisi memek Vani yang dilumat oleh Danan. Sensasi gatal yang semakin digaruk semakin menggila rasanya, berkumpul, mendesak, menuntut jalan keluar untuk meledak memenuhi tuntutan birahi. Vani sangat akrab dengan sensasi menuju orgasme yang sangat disukainya ini. Vani tau hanya beberapa lumatan atau beberapa gelinjang lagi dibutuhkan untuk mencapai puncah kenikmatan itu. Tapi, dewa mesum mempunyai maksud yang lain, karena pada detik-detik krusial tersebut, Danan malah menghentikan oral seks-nya.

“Lhhoooo.. kok brenti?” pekik Vani parau tidak terima digantung seperti itu. Tapi, bukan maksud Danan berhenti membahagiakan Vani. Hanya saja, Danan kecil sudah teriak-teriak protes menuntut gilirannya. Kontol Danan yang 16cm panjangnya, namun berdiameter hampir 4cm sudah ngaceng sempurna. Dananpun mencoba membobol memek Vani. Namun, setelah beberapa kali tusukan yang seringnya nyasar ke lubang anus Vani, akhirnya Vanipun tidak sabar lagi.

“Sini kontol lo Dan” kata Vani sambil menjulurkan tangannya ke bawah ke sela-sela pahanya menggapai kontol Danan. Dengan pasrah Danan membiarkan jemari lentik Vani menggenggam ujung kontolnya dan mengarahkannya ke lubang memek Vani. “Ajrit! Gede juga kontol ni anak. Moga-moga ga melar memek gue abis ini” batin Vani setengah takjub setengah jiper menyambut penetrasi kontol gede si Danan. Yang bikin si lonte ini agak jiper adalah palkon Danan yang bulat besar seperti helm tentara. Betul-betul seperti jamur kontol si Danan ini.

Jemari Vani dengan lihainya menempatkan palkon Danan tepat di bibir memeknya yang sudah mereka basah siap dikawinin. “Sekarang tekan pelan-pelan Dan” perintah Vani dengan suara agak bergetar, dag dig dug menyambut datangnya batang kebahagiaan. Mematuhi Vani, perlahan Danan memajukan pinggulnya, mendesak palkonnya masuk ke sela-sela gundukan daging basah tersebut. “Ukkhh…” Danan agak menggerung pelan karena palkonnya kesusahan memasuki memek Vani. “Pelan-pelan aja Dan.. pelan-pelan aja” bisik Vani setengah berharap. Tapi Danan sudah tidak sabar lagi. Sambil mencengkeram pinggul Vani kuat-kuat, Danan menarik pantat Vani kearahnya dan sekaligus mendorong kontolnya kuat-kuat ke dalam memek Vani. BLESH! “GOUUHhHHHH…..” lenguh Vani keras, kaget karena tiba-tiba memeknya terasa begitu penuh sesak oleh benda asing.

Baru saja Vani hendak teriak protes ke Danan, Vani merasakan kontol Danan mulai bergerak cepat maju mundur menggesek liang memeknya. Alih-alih memaki Danan, erangan dan lenguhan erotis Vani yang terdengar. Dan dalam sekejap, sensasi menuju puncak birahi muncul lagi. Bahkan lebih menggila dari sebelumnya. “Nggahhhh… ngaahhh…. Ouuhhhh Dannannn… enakkkhh bangettt… ngaahhhh..” lenguh Vani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heboh. Tidak sampai 2 menit dikocok… “Wooahhhhhh….. ooooohhhhhh….. gue nyampeeee….aahhhhh…” erangan orgasme Vani pun terdengar, dibarengi oleh pinggul dan pantatnya yang berkejut-kejut, sebagai reaksi heboh memeknya menyemburkan peju orgasme Vani membasahi kontol Danan di dalam memeknya.

Kaget karena baru pertama kali melihat cewek orgasme, Danan menghentikan kocokannya dan mengikuti arah gerak tubuh Vani yang pijakan kakinya melemas sehingga bersimpuh menungging di lantai kamar mandi. “Hah.. hah.. hah.. enak gila” Vani ngos-ngossan menikmati sisa-sisa kenikmatan puncak birahi pertamanya. Tapi Vani tidak bisa bersantai lama-lama, karena kontol Danan yang masih ngaceng keras di dalam memeknya, mulai bergerak memompa lagi.

“Dan.. dan.. time out bentar ya.. “ pinta Vani tanpa harapan. Tidak memperdulikan permohonan Vani, Danan malah semakin mempercepat genjotannya. Dan seperti biasa, birahi si Vani naik lagi dengan cepat. Vani pasrah membiarkan memeknya dihajar oleh kocokan buas kontol Danan dari belakang. Hanya suara-suara lenguhan Vani yang menandakan betapa Vani menikmati persenggamaan ini.

Tidak sampai 5 menit sejak orgasme pertamanya, orgasme kedua Vani meledak. “Hooahhhhh… kkok.. kokk.. gue lagiiiiiii… Ngaahhhhhhhh…”. Kali ini Vani betul-betul lemas sampai tengkurap di lantai kamar mandi. “Ooohhh.. hah.. hah.. hah” Vani mencoba menenangkan nafasnya yang masih memburu. “Danann… istirahat bentar yahh..” mohon Vani. ‘iya.. iya mbak” kali ini Danan memenuhi permintaan Vani. “Pindah ke ranjang aja ya Mbak” ajak Danan sambil mengangkat Vani. Sambil berpelukan ke Danan, Vani pun melangkah keluar dari kamar mandi dan langsung rebah terlentang di ranjang Danan.

Beralaskan empuknya ranjang Danan, Vani memejamkan matanya sejenak sambil mengatur nafasnya pelan-pelan. “huhh.. huhhh… hufff” deru nafas Vani terdengar perlahan. Danan hanya berdiri tegak di samping ranjang memandangi tubuh polos Vani. Cewek manis berambu bob warna brunette dengan tampang mesum. Bibir yang penuh mengundang untuk dicium. Toketnya yang terlihat besar mengacung padahal si empunya sedang dalam posisi tidur telentang. Perut rata, pinggang mengecil, kemudian membesar lagi dipinggulnya bak gitar spanyol. Gundukan tembem memek mulus tanpa sehali jembi pun melengkapi pemandangan erotis tubuh bugil Vani.

Tanpa bisa ditahan lagi, konto Danan kembali mengacung tegak. “Hei, lo cuma mau liatin gue kaya gitu terus ato mo ngentotin gue” tiba-tiba Vani menegur Danan sambil tersenyum mengundang. Ternyata nafsu birahi Vani belum terpuaskan oleh 2 orgasme. Dan memeknya sudah teriak minta dikontolin lagi. Basah, becek siap dipenetrasi.

Menyambut Danan, Vani membuka dan mengangkat pahanya, melipat ke arah tubuhnya sehingga Danan bisa menggenjotnya dari atas. Dengan penuh nafsu Danan melesakkan kembali kontolnya ke memek basah Vani, yang lagi-lagi diiringi oleh lenguhan kaget Vani. Dengan penuh semangat Danan menggenjot memek Vani, membuat ranjangnya berkeriut-keriut heboh. Toket Vani pun tidak lepas dari sasaran kebuasan Danan. Diremas-remasnya toket massive tersebut, diperas-peras layaknya sapi perah dikeluarkan susunya. Mulut Danan mencaplok dan mengemut-ngemut kasar puting Vani yang besar, membuat Vani melolong-lolong kesakitan sekaligus keenakan. Berpadu menjadi satu menciptakan sensasi birahi yang menggebu-gebu.

Vani menjambak rambut Danan dan meceracau ribut. “Yahhh.. yahhhh.. kentot gue.. kentot gue.. Ouuhhhhh… hohhh… hoooh… Cepetin Dannnnn..” raung Vani yang nyaris meledak tidak mampu menahan gelora birahi yang menghantamnya berkali-kali menuntut untuk dipuaskan. Danan menyambut gembira tantangan Vani dan mempercepat pompaannya. Sambil mencengkeram kuat-kuat kedua toket Vani, genjotan Danan semakin jadi tidak beraturan. “Ini mbak.. ini mbak.. rasain kontol gueeee… Hooohhhhh” lenguh Danan binal.

Danan mulai tidak mampu menahan ledakan orgasmenya. Terasa ada aliran yang menggelora di sepanjang batal kontolnya, menggedor-gedor ujung palkonnya siap menyembur. “Mbak.. mbak.. Gue mo nyampe nihhh…” erang Danan diujung pertahanannya. “Ga boleh.. ga boleh keluar.. gue duluan Danan.. Ahhhh… Lo harus tahan. Awass..aahhhh” ancam Vani yang juga sudah di ujung tanduk.

Sedetik lagi Vani mencapai orgasmenya, Danan akhirnya menyerah. Dia mencabut kontolnya cepat-cepat, dan menumpahkannya di perut Vani. “HOOooaaaaahhhh…. Hhahhhh.. hhahhh…” gerung Danan sambil mengocok kontol sampai tetes terakhir pejunya keluar membasahi perut putih Vani.

Vani yang sudah hampir sampe juga, reflek menggunakan jemarinya mengocok-ngocok memeknya untuk menuntaskan nafsu birahinya. CLEPP CLEPP SLEPPPP SLEPPP SLEEPPPPP… Dan…. “Ngggggaahhhhhhh…… sssshhhhhh… ouuhhhhhhh…. Hahhhhh.. hhhaaahhh…enaknyaa…” lenguh pamungkas Vani pun terdengar.

Di kamar sebelahpun, koor lenguhan orgasme Randy dan Momo berkumandang. Sasha menikmati setiap detik kepuasan orgasmenya tanpa bisa bersuara banyak, karena mulutnya disesaki oleh kontol Momo yang memuntahkan pejunya sampai berleleran di sisi bibir Sasha. Hanya cengkeraman keras jemari Sasha di pantat Momo yang menunjukkan betapa nikmatnya orgasme memek Sasha setelah digenjot habis-habisan oleh Randy. Randy juga tersenyum puas berhasil keluar di dalam memek Sasha yang berkedut-kedut karena orgasmenya.

Vani, Sasha, Randy, Momo dan Danan tertidur lemas dan puas setelah nafsu yang tertumpuk sedikit demi sedikit dari awal permainan mendapatkan pemuasannya masing-masing. Sambil mendekap Danan yang sudah jatuh tertidur, Vani pun berjanji dalam hati, kalo diajak maen lagi Vani akan memastikan Danan adalah peserta, bukan bankir lagi. Deru hujan menjadi lulabi tidur nyenyak para insan muda ini.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Cerita Sex Terbaru - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger